Walikota Bima Ajak Jaga Kerukunan Umat Beragama

Kota Bima, Kahaba.-  Walikota Bima, HM. Qurais H. Abidin pada acara silaturahim tokoh lintas agama Kota Bima, Rabu (29/7), di aula kantor Pemkot Bima mengajak masyarakat untuk menjaga kerukunan antar umat beragama.

Walikota Bima, HM. Qurais. H. Abidin

Walikota Bima, HM. Qurais. H. Abidin

Acara Silaturahim yang digelar untuk menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo untuk memperkuat kerukunan antar umat beragama di seluruh daerah di Indonesia menyusul insiden di Tolikara, Papua itu juga dihadiri Wakil Walikota Bima, Kepala Kejaksaan Negeri Bima dan Dandim 1608 Bima, dan Wakapolres Bima Kota.

Kata Qurais melalui siaran Pers yang disampaikan Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Bima Ihya Ghazali, S.Sos, insiden Tolikara yang terjadi pada hari raya Idul Fitri 1436 Hijriah, telah membangkitkan kesadaran seluruh elemen masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga kerukunan, khususnya kerukunan antar umat beragama. Pada level nasional, Presiden mengajak seluruh tokoh agama untuk melakukan konsolidasi.

“Pada level daerah, semua kepala daerah mengadakan dialog dengan tokoh lintas agama di daerahnya, seperti yang kita laksanakan hari ini,” ujarnya kepada perwakilan umat Muslim, Kristiani, Katolik, dan Hindu yang hadir.

Walikota pun mengajak seluruh umat beragama di Kota Bima untuk belajar dari masyarakat Bali dan Manado tentang penerapan toleransi antar umat beragama. Meredam konflik komunal seperti yang terjadi di Tolikara tidak sekadar menebar himbauan, arahan, dan bantuan rehabilitasi saja.

Perlu pendekatan yang komprehensif, baik penegakan hukum dan keamanan maupun pendekatan sosial dengan melihat realitas objektif yang menjadi akar konflik. Prosesnya pun harus dilakukan secara berkelanjutan.

Hampir di semua komunitas memiliki kearifan lokal (local wisdom). Dalam sebuah komunitas, kearifan lokal biasanya menjadi rujukan dalam menjalani kehidupan. Konflik sebagai realitas sosial harus dikelola dengan basis pengetahuan atau kearifan lokal ini. Di situlah pentingnya penguatan institusi lokal dalam suatu masyarakat yang rawan konflik. Institusi lokal yang dimaksud adalah FKUB,

“Peran bapak-ibu sebagai ulama dan tokoh agama sangat menentukan sekali, utamanya memberi nasihat dan wejangan kepada yang di bawah agar grassroot (akar rumput/umat) bisa berkepala dingin,” kata Walikota.

Ketua FKUB Kota Bima Eka Iskandar, melaporkan, menyusul insiden Tolikara, FKUB Kota Bima telah menandatangani kesepakatan bersama untuk menjaga kerukunan antar umat beragama di Kota Bima.

“Kami selalu mengadakan acara silaturahim secara rutin, termasuk pada bulan Ramadhan kemarin, yang dilaksanakan di aula kantor Walikota Bima, yang dihadiri oleh Wakil Walikota,” katanya.

Perwakilan umat Kristiani dan Katolik pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat dan Pemerintah Kota Bima.

“Kami memang minoritas. Namun kami tidak merasa sebagai orang asing di sini, karena penerimaan yang baik dari masyarakat dan Pemerintah Kota Bima,” tutur perwakilan Gereja Katolik Kota Bima.

*Bin/Hum

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *