Wahyudin, Kader Golkar Yang Teruji Militansinya

Kabupaten Bima, Kahaba.- Dualisme kubu Golkar versi Agung Laksono dan Aburizal Bakri yang berimbas pada proses Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Bima, berakhir dramatis dan happy ending.

Ketua DPD II Partai Golkar Kubu Agung Laksono, Wahyudin S.Ag. Foto: Bin

Ketua DPD II Partai Golkar Kubu Agung Laksono, Wahyudin S.Ag. Foto: Bin

Sosok Wahyudin, S.Ag yang juga Ketua DPD Golkar Kabupaten Bima versi AL adalah tokoh sentral dalam keberhasilan Pasangan Dinda-Dahlan sebagai calon yang telah diloloskan secara administrasi oleh KPUD Kabupaten Bima. Sikap politik Wahyu sangat menggambarkan bahwa dirinya adalah kader Golkar yang sejati.

Ditengah perjalanan politiknya yang berseberangan dengan Kubu Hj. Indah Damayanti Putri (Ketua DPD Golkar Kabupaten Bima versi ARB), saat injury time Wahyu dengan sadar bahwa dia harus melihat persoalan ini bukan atas kepentingan pribadinya.

“Saya berbuat itu karena saya sadar kepentingan partai lebih utama, padahal Saya memiliki kesempatan untuk melakukan apa yang saya inginkan,” ucap Wahyu, saat di temui di kediamannya, Jum’at, (31/7).

Disinggung soal kesepakatannya dengan Dinda, Wahyu menerangkan dirinya tidak mengambil untung secara pribadi, tapi sekaligus menunjukkan pelajaran politik yang sehat bagi semua pihak terutama bagi dirinya sendiri.

“Memang banyak isu yang beredar, tapi saya bersumpah saya tidak menerima apapun pemberian dari Dinda saat datang ke rumah Saya. Selasa subuh hingga jam 08.00 Wita di hari terakhir pencalonan. Dan faktanya juga, Saya tetap mencalonkan diri bersama Pak Abas selaku Calon Bupati pasangan Saya, dan itu bukti komitmen Saya pada pasangan yang sudah saya tentukan,” jelasnya.

Mantan Ketua KNPI Kabupaten Bima ini pun menambahkan, saat penolakan oleh KPUD terhadap dirinya dan Abas, tentu sebagai politisi, Wahyu menentukan sikap kedewasaannya. Ia berbalik, dan datang bersama Dinda sekaligus membuktikan bahwa dirinya adalah politisi yang tidak boleh di pandang sebelah mata.

“Ini keputusan yang terbaik yang harus diambil, demi kebaikan bersama dan masa depan Golkar di Bima. Sekali lagi saya tekankan, ini bukan uang atau posisi tawar apa pun tapi semata-mata untuk dou lao dana mbojo,” tutup Bapak tiga anak itu.

*Agus

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *