Pendidikan dan Kesejahteraan Sosial

Oleh: Didid Haryadi

Didid Haryadi

Didid Haryadi

Pendidikan adalah kunci untuk mencapai kesejahteraan sosial. Peran pendidikan dalam membentuk karakter masyarakat sangat besar. Melalui pendidikan baik yang bersifat formal maupun non formal pembentukan mental manusia juga terjadi. Pada beberapa negara yang sudah maju ataupun negara yang masih berkembang, metode pendidikan yang diterapkan sangat bervariasi. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan konsep pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan sebuah bangsa atau negara. Akan tetapi esensi dan semangat nilai-nilai pendidikan yang ingin dicapai adalah membentuk generasi yang cerdas dan paham tentang ilmu pengetahuan serta mampu memecahkan masalah sosial yang ada di dalam kehidupan sosial.

Secara umum tujuan dan pencapaian pendidikan pada setiap negara adalah sama. Yaitu membentuk generasi yang memahami ilmu pengetahuan dan keahlian untuk pembangunan Negara. Kelompok intelektual memiliki peran yang sangat penting dalam melakukan kontrol sosial dan transformasi keilmuan kepada komunitas ataupun masyarakat. Institusi-institusi sosial yang ada di dalam kehidupan sosial harus dapat dimanfaatkan secara maksimal agar pembentukan mental dan karakter pendidikan dapat terlaksana dengan baik. Institusi sosial seperti keluarga, menjadi tempat pertama untuk transformasi keilmuan. Kontribusi keluarga dalam pendidikan bagi anggota-anggotanya sangat besar. Orangtua adalah sumber keilmuan yang primer sekaligus pengajar yang sangat aktif dalam melakukan transformasi ilmu pengetahuan.

Keluarga dan Pendidikan Dalam Islam

Konsep pendidikan di dalam lingkungan keluarga menjadi hal yang sangat penting, melalui landasan keilmuan dan keagamaan yang bersifat tradisional ataupun moderat secara langsung akan mempengaruhi pola pikir. Nilai-nilai sosial yang bersifat tradisional yang ada dalam kehidupan sosial menjadi sumber keilmuan yang tidak bisa dihindari. Misalnya menghormati dan melestarikan kearifan lokal yang diimbangi juga dengan semangat mendalami keilmuan yang ada. Sumber keilmuan lainnya adalah pranata-pranata sosial seperti solidaritas sosial, yang bisa menjadi cara untuk tetap mempertahankan tradisi sosial yang ada. Selain itu pendidikan juga bisa menjadi variabel untuk melakukan kontrol sosial, ikut membantu menjaga keseimbangan nilai-nilai tradisional dan menyesuaikan dengan kebutuhan sosial masyarakat.

Secara sosiologis, pendidikan yang ada didalam masyarakat terbentuk dari sistem sosial, konstruksi sosial, dan kenyataan sosial. Salah satu yang digunakan sebagai media analisa adalah kenyataan sosial. Seperti yang diungkapkan oleh Doyle Paul Johnson dalam Sociological Theory Classical Founders and Contemporary Perspectives, ada empat cara untuk mengklasifikasi pelbagai tingkatan kenyataan sosial yaitu pertama, melalui analisa tingkat individu, Kedua melalui analisa tingkat antarpribadi (interpesonal), ketiga melalui tingkat struktur sosial, dan yang keempat melalui analsisa tingkat budaya.

1.Tingkat Individu

Pada tingkat ini analisa dilakukan dengan menempatkan individu sebagai pusat perhatian utama. Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam memahami analisa pada tingkat ini adalah seringkali perhatian diberikan tidak kepada individu sebagai individu, melainkan pada satuan-satuan perilaku atau tindakan sosial individu. Sub tingkatan dalam individu dapat dibagi menjadi dua yakni tingkat perilaku (behavioral), dan tingkat subyektif.

2.Tingkat Antarpribadi (interpersonal)

Kenyataan sosial pada tingkatan ini meliputi interaksi antarindividu dengan semua arti yang memiliki hubungan dengan komunikasi simbolis, penyesuaian timbal-balik, negosiasi mengenai bentuk-bentuk tindakan yang saling tergantung, kerja sama atau konflik antarpribadi, bersama pola-pola adaptasi yang berhubungan dengan lingkungan yang lebih luas. Dua perspektif utama yang menjadi bagian dari tingkatan antarpribadi adalah menekankan analisa teori interaksionisme simbolik dan teori pertukaran sosial.

3.Tingkat struktur sosial

Hal yang menarik dalam tingkat struktur sosial adalah melihat kenyataan ke dalam struktur sosial lebih abstrak. Analisa yang digunakan adalah menekankan tentang pola-pola tindakan dan jaringan-jaringan interaksi yang disimpulkan dari pengamatan terhadap keteraturan dan keseragaman yang terdapat dalam dimensi ruang dan waktu. Individu atau tindakan dan interaksi antarindividu tidak menjadi perhatian utama.

Satuan-satuan yang paling penting adalah tentang posisi-posisi sosial dan peranan-peranan sosial. Posisi sosial didefiniskan menurut hubungannya yang kurang lebih stabil dengan posisi-posisi lainnya dalam kehidupan sosial. Sedangkan peranan-peranan sosial didefinisikan menurut harapan-harapan bersama akan perilaku orang-orang yang menduduki pelbagai posisi.

Perwujudan dari posisi sosial dan peranan sosial dapat dilihat dari terbentuknya struktur-struktur sosial, baik dalam kelompok yang kecil (seperti persahabatan, solidaritas komunitas), maupun kelompok yang besar, seperti asosiasi-asosiasi, institusi-institusi sosial, dan masyarakat. Analisa fungsional dan konflik adalah fokus dalam tingkatan ini.

4.Tingkatan Budaya

Beberapa komponen yang terdapat dalam tingkatan ini adalah nilai, simbol, arti, norma, dan pandangan hidup yang umumnya dimiliki oleh anggota suatu komunitas komunitas atau masyarakat. Dalam definsi yang lebih luas, terminologi kebudayaan terdiri dari produk-produk tindakan dan interaksi manusia. Yang meliputi ciptaan yang bersifat materil ataupun nonmateril. Dalam antropologi, salah satu definisi yang sering dicatat sebagai kebudayaan adalah bagian keseluruhan yang kompleks yang meliputi aspek pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, kebiasaan, dan kemampuan-kemampuan dan tata cara lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Teknologi dalam dunia industri adalah manifestasi kebudayaan yang bersifat materil.

Pendidikan Menurut Ibnu Khaldun

Dalam buku Mukaddimahnya, Ibnu Khaldun mengungkapkan, “barangsiapa yang tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman”. Pesan yang ingin disampaikan oleh Ibnu Khaldun adalah jika seseorang atau anggota suata masyarakat/bangsa tidak memperoleh pendidikan melalui lembaga formal seperti sekolah ataupun institusi sosial seperti keluarga, maka akan belajar melalui alam (lingkungan) yang terjadi sepanjang zaman, ataupun sebaliknya alam yang akan mengajarkannya. Dari hal tersebut dapat diketahui pentingnya pendidikan dan menjadi hal yang sangat esesnsial bagi manusia.

Adapun tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun yaitu:

  1. Menyiapkan seseorang dari segi keagamaan
  2. Menyiapkan seseorang dari segi akhlak
  3. Menyiapkan seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial
  4. Menyiapkan seseorang dari segi vokasional atau pekerjaan yakni membantu manusia dalam kehidupannya mencari rezeki
  5. Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran
  6. Menyiapkan seseorang dari segi kesenian

Rumusan Ibnu Khaldun Mengenai Tujuan Pendidikan Sebagai Berikut :

  1. Memberikan kesempatan kepada pemikir untuk aktif dan bekerja, karena aktivitas ini sangat penting untuk membuka wawasan dan kematangan individu untuk berkontribusi ke dalam masyarakat
  2. Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan sebagai alat untuk membantunya hidup dengan baik di dalam masyarakat, maaju dan berbudaya.
  3. Memperoleh lapangan pekerjaan, yang digunakan untuk memperoleh rezeki

Adapun pemikiran dan konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun, tentang manusia didik. Ibnu Khaldun melihat manusia tidak menekankan pada kepribadiannya. Menurutnya, manusia bukan merupakan produk nenek moyangnya, akan tetapi produk sejarah, lingkungan sosial, lingkungan alam, adat-istiadat, karena itu lingkungan sosial merupakan tanggung jawab dan sekaligus memberikan corak perilaku seorang manusia.

Ibnu Khaldun berpandangan, manusia sebagai mahluk yang berbeda dengan mahluk lainnya. Sebab utamanya adalah karena manusia memiliki pikiran dan senantiaasa melakukan proses internalisasi dalam pemikirannya. Melalui hal inilah manusia mampu melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan tidak hanya menciptakan kehidupan sosial, tetapi juga memberikan perhatian terhadap berbagai cara untuk mempertahankan diri, sampai dengan membentuk peradaban sosial.

Konsep Pendidikan Dalam Sosiologi :

Sosiologi melihat pendidikan sebagai sebuah fenomena yang memberikan dampak dalam membentuk karakter masyarakat melalui institusi sosial dan ilmu pengetahuannya. Ada Beberapa perspektif yang bisa digunakan dalam sosiologi pendidikan, diantaranya adalah perspektif yang bersifat makro (kajian pendekatan obyektif), dan perspektif yang berdimensi mikro (kajian dengan pendekatan subyektif). Dalam mengkaji masalah pendidikan, sosiologi yang berorientasi makro akan melihat institusi, struktur, kelompok, dan budaya pendidikan.

Sosiologi sebagai bagian dari ilmu sosial pada level yang makro melihat bagaimana pendidikan diorganisasikan, institusi pendidikan dibentuk, dan kultur sekolah disosialisasikan dan sistem pendidikan dikembangkan. Sedangkan pada dimensi yang mikro, kecenderungannya adalah menggunakan perspektif fenomenologis, dengan fokus utama memahami hal yang ada dibalik sebuah fenomena, data, informasi, atau realitas kehidupan individu.

Menurut teori struktural fungsional, masyarakat sebagai suatu sistem memiliki struktur yang terdiri dari banyak lembaga, dimana masing-masing lembaga memiliki kompleksitas yang tidak sama. Misalnya lembaga sekolah, dan lembaga keluarga.

Murphy (1979) memberikan empat tema dalam analisa fungsionalis, yaitu:

  1. Terdapat peran pendidikan formal dalam evolusi masyarakat modern yaitu dari partikularisme ke universalisme dan dari askripsi ke prestasi dan juga peran sekolah.
  2. Menganalisa disfungsi-disfungsi sistem pendidikan formal untuk semua kelompok
  3. Perdebatan mengenai pengaruh biologis dan biopsikologis yang bertentangan dengan fenomena sosial dan kemampuan intelektual

Menurut Emile Durkheim memandang pendidikan sebagai bagian yang penting untuk menjaga keberlangsungan masyarakat. Pendidikan dipersepsikan oleh Durkheim sebagai suatu kesatuan utuh dari masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan sebagai dasar masyarakat menentukan proses alokasi dan distribusi sumber-sumber perubahan. Pendidikan adalah “babby sitting”, yang memiliki peran agar masyarakat tidak berperilaku menyimpang. Selain itu juga, pendidikan harus bisa memaksimalkan bakat siswa dan juga harus ditransformasikan kepada masyarakat.

Menurut Talcott Parson, sekolah sebagai sarana sosialisasi utama. Adapun fungsi sekolah menurut Parsons adalah pertama, mengarahkan pesertanya dari orientasi askriptif menuju orientasi yang bersifat prestasi. Kedua, alokasi seleksi atau diferensial ke peran-peran dewasa yang diberikan penghargaan yang tidak sama.

Mencapai Kesejahteraan Sosial

Secara umum ukuran untuk ,mencapai kesejahteraan sosial adalah terpenuhinya akses kebutuhan makan dan minum, kesehatan, dan pendidikan. Prioritas dan paling mendasar adalah kebutuhan yang bersifat primer, yaitu makan dan minum. Hal ini sangat penting untuk segera direalisasikan karena berhubungan langsung dengan aktivitas sosial, yang pada akhirnya akan berdampak secara langsung terhadap kebutuhan lainnya.

Akses kesehatan yang layak kepada masyarakat, juga menjadi standar untuk mengukur kesejahteraan sosial. Kesehatan secara fisik akan membantu individu dan kelompok beraktivitas dengan lancar dan tanpa hambatan. Yang pada akhirnya akan mempermudah tercapainya hasil yang maksimal dalam beragam aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan sosialnya.

Pendidikan menjadi landasan utama untuk membentuk mental dan karakter individu. Melalui pendidikan dinamika pengetahuan terjadi dalam beberapa institusi, baik yang bersifat formal maupun non-formal. Sekolah adalah institusi sosial yang menjadi tempat utama sekaligus sumber dilakukannya transformasi ilmu pengetahuan. Disamping itu, lembaga sosial lain yang memiliki peran penting sebagai media untuk memperoleh nilai-nilai pendidikan adalah keluarga dan masyarakat. Dalam kehidupan keluarga, mental dan karakter dibentuk sesuai dengan kondisi sosial yang ada, yakni melalui peran orangtua dan anggota keluarga lainnya.

Sosialisasi dan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat juga mampu memberikan kontribusi dan pengaruh yang sangat kuat untuk trnasformasi ilmu pengetahuan. Hal ini disebabkan karena kehidupan sosial adalah tempat yang sangat heterogen dan didalamnya terjadi dinamika sosial yang sangat cepat. Oleh karena itu, terkadang nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat lebih dominan membentuk karakter para anggotanya.

Secara sosiologis, kesejahteraan sosial akan dapat tercapai jika kebutuhan pendidikan, makan dan minum, kesehatan yang layak diberikan kepada masyarakat. Salah media yang bisa dilakukan adalah dengan memaksimalkan lembaga sosial. Misalnya sekolah dan pemberdayaan kepada masyarakat. Membentuk komunitas menjadi alternatif untuk mengimbangi peran sekolah sebagai lembaga sosial yang formal. Didalam komunitas, pemberdayaan melalui transformasi ilmu pengetahuan harus menjadi fokus utama. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan membentuk komunitas yang berbasis pada pemahaman tentang nilai-nilai pendidikan. Tentu saja peran serta yang berkelanjutan dan membangun partisipasi yang berbasis kesadaran anggota masyarakat adalah hal utama yang juga harus dilakukan dengan maksimal.

 *Penulis juga Mahasiswa Program Master, Sosiologi, Istanbul University. Dan Tulisan ini sudah dipresentasikan di Kota Konya-Turki dalam kegiatan International Summer School, 1-9 Agustus 2015

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *