Pasar Amahami, Kumuh dan Merusak Pemandangan

Kota Bima, Kahaba.- Pasar Amahami yang baru beberapa hari ditempati pedagang terlihat kumuh dan tak sedap dipandang mata. Letaknya yang berada di Gerbang Masuk Kota Bima justeru menghilangkan kesan keindahan Kota yang diapit pegunungan dan laut.

Kondisi Pasar Amahami. Foto: Bin

Kondisi Pasar Amahami. Foto: Bin

Jika sempat melewati Jalan Negara di sekitar Amahami, dibagian barat kita akan disuguhkan pemandangan layaknya tempat pengungsian. Tenda berwarna warni menghiasi dua lokal pasar baru tersebut. Pedagang ternyata tidak menempati dibagian dalam pasar saja, justeru membangun tenda dan berjualan di depan jalan lingkar Padolo III.

Haris, warga Kota Bima menilai Pemerintah keliru menempatkan Pasar di gerbang Kota. Karena yang namanya pasar, tetap akan kelihatan kumuh dan kotor. “Itu gerbang Kota, nilai arsitekturnya tidak bagus sekali. Kita bisa melihat sendiri jika lewat di Jalur Amahami, kumuh dan kotor,” sorotnya, Senin (7/9).

Ia khawatir, kondisi pasar tersebut akan semakin tidak terurus dan merusak pemandangan jika memasuki Bulan Desember. Pasalnya di bulan itu, Kota Bima biasanya akan diguyur hujan. “Lihat saja nanti, selain semakin kumuh, pasar tersebut akan bau. Pengguna jalan di Jalur Amahami, akan merasa terganggu,” katanya.

Ia mengkritik, Pemerintah Kota Bima jangan hanya mengejar perolehan PAD dari pengelolaan Pasar, tapi mengabaikan sisi keindahan dan estetika Kota. Apalagi letaknya berada di gerbang masuk Kota Bima. Yang mestinya menyajikan pemandangan indah saat orang masuk ke Kota Bima. “Kesan kumuh Kota Bima saat orang pertama masuk tak bisa dihindari,” ujarnya.

Kondisi Pasar Amahami. Foto: Bin

Kondisi Pasar Amahami. Foto: Bin

Senada dengan Haris, warga Kota Bima yang lain, Can juga menilai pasar Amahami nampak merusak pemandangan. Bentuknya tidak teratur, kumuh dan bau. “Kita lewat saja, baunya sudah terasa. Apalagi kalau kita berkunjung dan keliling jalan kaki pasar tersebut,” ucapnya.

Kesembrawutan tersebut diminta untuk segera diperbaiki, karena keindahan kota Bima jadi terganggu. “Kenapa tidak ditempatkan saja dari ujung Barat jalan Padolo III, dipinggir jalan negara ini seperti tempat menampung korban bencana. Tenda tenda merusak pandangan,” tuturnya.

Sementara itu, Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Bima Ihya Ghazali menjelaskan, jumlah pedagang yang menempati Pasar Amahami, over kapasitas. Yang mestinya hanya ditempati 718 pedagang sesuai SK Walikota Bima, justeru ditemukan banyak pedagang musiman. “Jumlahnya membengkak menjadi 1040 pedagang. Lihat saja kondisi sekarang, bisa lebih dari itu,” sebutnya.

Banyaknya pedagang yang memilih berjualan diluar, menurutnya, karena enggan menempati lokasi yang sudah dibagi didalam pasar. Pedagang lebih memilih berjualan diluar. “Tend-tenda yang dibangun diluar juga karena adanya penambahan pedagang diluar SK,” jelasnya.

Kendati demikian, Pemerintah Kota Bima bersyukur karena tidak ada gejolak. Soal pemandangan, akan diatur, termasuk membangun Los bagian tengah pasar dari triplek. “Yang dipinggir jalan juga nanti akan ditertibkan, termasuk diatur trayek angkot dan parkir,” terangnya.

Ihya menambahkan, Walikota Bima juga meminta ini menjadi pekerjaan kolektif seluruh SKPD. Untuk terlibat dan memberikan kesadaran kepada masyarakat. “Intinya Pemerintah tetap mengatur agar tidak terlihat kumuh dan merusak pandangan. Jadi dibutuhkan kesadaran kolektif dari pedagang dan pengunjung,” tambahnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. tunggamahardika

    Ketidakpastian dalam penataan??? itu yang tepat, menurut saya.!!
    Dinas Pasar, memang lebih berperan strategis dalam memobilisasi unsur terkait.
    Tapi satu hal yang harus diingat, Bapeda sebagai perencana tunggal dalam penataan kawasan kota harusnya lebih mampu menjabarkan keinginan Dinas Tata Kota, Dinas Pasar, Dinas Koperindag dan unsur terkait lain yang ada dalam pasar itu. Wajah kota, memang akan terkesan baik bila dalam rencana tata ruangnya baik.
    Namun, kadang implementasi di lapangan sangat berbeda. Pemerintah memang harus lebih intens untuk mengatur, kalau ada ketegasan pemerintah dan pengelola pasar. Saya kira masyarakat pedagang akan lebih menurut.
    Infrastruktur pendukung dan penataan lokasi los pasar, memang harus dikaji lagi lebih baik, drainase tidak hanya ada fisiknya. Namun, harus benar-benar berfungsi dengan baik.

    ****Satu saran saya pada sahabatku yang memberi info positif ini,
    ::::::kalau ada nara sumber yang Komperehensif dan mampu mengkaji sisi yang lain, itu akan menjadi masukan bagi pemerintah. Tidak hanya melihat dan mengamati kesemrawutan, tapi dia juga bisa memberikan ide-ide serta solusi dari persoalan yang dihadapi oleh kota kita. thanks” kawan, atas infonya.

  2. Mr brownstone

    yaelahh, hal sperti ini aja masih di komentarin, harusnya kita warga bima bersyukur dengan kemajuan kota bima yg secara tiba2, coba tengok kinerja walikota2 kita sbelumnya. tolong jangan cuma bisa mengkritik, mungkin ini hanya satu kesalahan dari berbagai macam pembangunan saat ini, saya pribadi bersyukur bgt krna pembangunan yg luar biasa pesatnya ini, bahkan pernah ssaya lihat sendiri kalau pekerja perbaikan jalan dikampung melayu dilakukan pada malam hari.
    luar biasabiasa.
    terimakasih bapak ibu pengurus daerah kota bima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *