Warga Blokir Jalan dengan Bawang Merah

Kabupaten Bima, Kahaba.- Blokir jalan menggunakan kayu dan batu mungkin sudah kerap dilakukan warga ketika menyampaikan protes. Namun di Desa Ngali Kecamatan Belo, ratusan warga memblokir jalan menggunakan bawang merah. Aksi tersebut merupakan bentuk protes dan kekecewaan warga terhadap anjloknya harga bawang merah selama beberapa bulan terakhir.

Warga saat blokir jalan dengan bawang merah. Foto: Ady

Warga saat blokir jalan dengan bawang merah. Foto: Ady

Blokir jalan dimulai sekitar pukul 09.30 Wita di jalan Lintas Ngali-Karumbu. Dalam aksinya, warga meminta pemerintah melalui SKPD terkait memperhatikan nasib petani bawang dan tidak tutup mata dengan anjloknya harga bawang.

Menurut warga, hinga kini tidak ada perhatian pemerintah soal anjloknya harga bawang. Padahal bawang merupakan komoditas unggulan di Bima dan telah mendapatkan atensi dari Pemerintah Pusat saat kunjungan Menteri Pertanian beberapa waktu lalu.

“Kami sangat kecewa dengan anjloknya harga bawang, ditambah lagi tidak ada perhatian pemerintah. Petani juga kecewa dengan tingginya harga pestisida. Harga pestisida tidak sesuai dan tidak sebanding dengan harga obat-obatan,” ujar Adika Dahlan, salah satu perwakilan warga.

Selain itu kata dia, warga juga menyinggung soal bibit pengadaan pemerintah dengan harga kisaran Rp.1,5 juta hingga Rp.2 juta. Sementra pasca panen, pemerintah dengan pedagang meminta harga sangat miring dari petani.

“Ini sengaja dirancang pemerintah untuk mencari keuntungan lewat keringat masyarakat,” tudingnya.

Aksi berakhir sekitar Pukul 11.30 Wita, setelah pemerintah kecamatan turun ke lokasi menemui warga. Berdasarkan hasil negosiasi, warga memberkan waktu tiga hari kepada pemerintah untuk memberikan jawaban. Terutama terkait permintaan untuk menstabilkan harga bawang.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *