Survei LSI, SYUKUR dan DINDA Berpeluang Menang

Kabupaten Bima, Kahaba.- Menurut hasil survey Lembaga Survei Konsultan Citra Indonesia (KCI) yang bekerja sama dengan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Pasangan Calon (Paslon) H Syafrudin – H Masykur HMS (SYUKUR) dan Hj Indah Damayanti Putri – Dahlan M Noer (DINDA) paling berpeluang menang dibanding dua Paslon lainnya.

Narasumber KCl-LSI Network saat gelar konferensi pers hasil survei. Foto: EM

Narasumber KCl-LSI Network saat gelar konferensi pers hasil survei. Foto: EM

Hasil survei lembaga independen ini diekspose lewat press releasenya, Rabu (16/9) siang di Hotel Marina Kota Bima. Kegiatan ilmiah ini bertemakan Menanti Bupati Pilihan Warga Bima.

Peneliti Senior dari LSI, Adjie Alfaraby mengungkapkan, dari ke empat Paslon yang telah ditetapkan KPU Kabupaten Bima, hanya ada dua Paslon yang paling berpeluang menang yakni Paket SYUKUR dan DINDA. Meski begitu, dari keduanya tidak ada yang bisa mengklaim siapa yang lebih unggul karena selisih elektabilitasnya sangat kecil.

Adjie mengaku, Pasangan DINDA dan SYUKUR adalah dua paslon yang memiliki potensi meraih suara terbanyak di Pilkada Kabupaten Bima Tahun 2015 ini. DINDA unggul dari aspek sebagai sosok yang merakyat dan berasal dari keluarga tokoh politik. Sedangkan SYUKUR lebih unggul nilai porsentasenya pada aspek figur Kepala Daerah dalam menyelesaikan masalah serta didukung para tokoh politik.

Ia menambahkan, margin error dalam survei ini sebesar 4,8 persen dan selisih elektabilitas dari keduanya kisarannya hanya 2 persen saja.

“Lebih tingginya nilai margin error dari selisih elektabilitas, kondisi ini membuat tidak ada yang bisa mengklaim siapa yang lebih unggul dari dua paslon tersebut,” akunya.

Berdasarkan hasil survei ini, popularitas SYUKUR lebih unggul karena mendapatkan sebesar 74,50 persen dan DINDA sebsar 68,40 persen. Sedangkan pada aspek kesukaan justru DINDA lebih unggul karena mendapatkan 84,70 persen suara lebih tinggi dari SYUKUR di angka 81,70 persen.

Sedangkan untuk dua Paslon lainnya, yakni Ady Mahyudi-Zubaer (MAJU) dan Pasangan Independen, Abdul Khair – Hamid (KH) akan sangat sulit untuk bersaing dengan SYUKUR dan IDOLA. Suara mereka memiliki selisih berkisar 15 persen dari paslon IDOLA dan SYUKUR. “Sulit sekali untuk dua pasangan ini mengimbangi elektabilas dari IDOLA dan SYUKUR. Kami melihat ada matahari kembar di Pilkada Kabupaten Bima. Kedua Paslon bersaing ketat di posisi papan atas. Dinamika elektabilitas mereka pun saling mengalahkan. Sementara ini, suara mereka ada di atas 20 persen,” paparnya.

Namun sambungnya, kemenangan dari keduanya akan ditentukan juga pada pilihan swing vooter (pemilih mengambang). Swing vooter masih berkisar di angka 45,50 persen. Siapa yang bisa mendapat dukungan dan menarik suara dari swing vooter, maka diprediksi meraih kemenangan di pilkada kali ini.

Meski berpeluang menang, menurut Adjie, ada beberapa hal yang bisa menurunkan elektabilitas dan suara dari keduanya. Pertama, golputnya pendukung pasangan calon tersebut. Kedua, beralihnya dukungan dari pemilih yang belum menentukan pilihan. Dan yang terakhir, kampanye negatif (negatif campaign) yang dilempar lawan politik. “Asal ada alat bukti, kampanye negatif ini dibenarkan. Tentu, terpaan kampanye negatif akan berdampak dan mempengaruhi pada nilai elektabilitas paslon,” ungkapnya.

Adjie berjanji, mendekati hari pemilihan KCL dan LSI akan melakukan survei elektabilitas calon untuk yang kedua kalinya. Pihaknya pun akan mengekspose kembali hasil survei tersebut. .

“Hasil survei yang diekspose ini bertujuan untuk memberi gambaran tentang kriteria calon, peta suara maupun gambaran sementara dari kekuatan elektabilitas pasangan calon yang ada,” terangnya.

Bagi KCI dan LSI tambahnya, kegiatan ini merupakan kegiatan reguler yang biasa dilakukan saat momentum pemilihan umum berlangsung. Survei ini dipastikan menggunakan cara kerja yang obyektif, ilmiah dan bukan pesanan politik dari pihak manapun. Di NTB, sejak tahun 2008, LSI sudah melakukan berbagai kegiatan survei dari pemilihan Gubernur hingga pemilihan Bupati dan Walikota. Survey ini, dilakukan dari Tanggal 28 Juni sampai dengan 8 Juli 2015 menggunakan metode multistage random sampling.

“Dan jika ada pihak yang dirugikan secara politis dari hasil survei ini, sesungguhnya hal ini bukan niat dan tujuan dari kegiatan ini. Kami pun berharap, hasil survei ini bisa memberi peta suara dan gambaran elektabilitas dari masing-masing paslon. Dan bagi paslon yang ada di tingkat bawah, kami berharap hasil survei ini bisa menjadi cambuk semangat dalam memperbaiki tingkat konsolodasi dan strategi pemenangan dan cara berkampanye. Kami kira, saat ini masih ada waktu untuk itu,” tuturnya.

*EM

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *