Jalan dan Jembatan Desa Oi Bura Rusak Parah

Kabupaten Bima, Kahaba.- Meski memiliki situs sejarah yang mendunia, kehidupan masyarakat di Kecamatan Tambora Kabupaten Bima hingga saat ini masih sangat tertinggal. Pembangunan infrastruktur tidaklah sepesat di kecamatan lainnya. Seperti dirasakan masyarakat Desa Oi Bura, satu dari sekian desa di Kecamatan Tambora.

Kondisi jembatan di Desa Oi Bura yang rusak parah. Foto: Ady

Kondisi jembatan di Desa Oi Bura yang rusak parah. Foto: Ady

Sejak puluhan tahun lamanya, masyarakat setempat jauh dari pelayanan dan kemudahan akses lalulintas. Kehidupan masyarakat yang berada tepat di kaki Gunung Tambora itu seakan terisolir tanpa perhatian dari Pemerintah Daerah. Salah satunya soal infrastruktur jembatan yang menjadi akses utama untuk menghubungkan dengan desa lainnya.

Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan karena rusak parah. Jembatan itu dibangun sekitar Tahun 2013 lalu oleh Pemerintah Kabupaten Bima melalui SKPD terkait. Struktur bangunan jembatan hanya tersusun dari kayu, sangat tidak memungkinkan dilewati kendaraan roda empat. Tidak genap setahun, jembatan itu pun rusak dan tak pernah lagi diperbaiki hingga kini.

“Jembatan dari kayu itu hanya dimanfaatkan masyarakat beberapa bulan saja karena setelah itu rusak. Tidak ada pilihan lain, kalau mau melintas harus di bawah sungai,” kata Wahyudin, Kepala Desa (Kades) Oi Bura kepada Kahaba, kemarin.

Untungnya kata dia, saat musim kemarau sungai mengering sehingga kendaaraan bisa melintas. Tetapi kalau musim hujan tiba, otomatis kendaraan tidak bisa melintas. “Mau tidak mau, harus tunggu air sungainya kecil dulu baru bisa,” akunya ditemui di Desa Oi Bura.

Ia menilai, pembangunan jembatan tersebut setengah hati karena tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Selain itu, tidak ada perhatian lagi dari pemerintah untuk memperbaiki walaupun sudah diketahui rusak.

Tak hanya jembatan lanjutnya, kondisi jalan hampir di semua desa di Kecamatan Tambora rusak parah. Terutama di Desa Oi Bura. Jalan hanya beralas tanah, berlubang, penuh batu dan debu. Apabila musim hujan, kondisi jalan penuh lumpur dan becek sehingga sangat sulit dilalui kendaraan.

Dampak jalan dan jembatan rusak kata Kades, mengakibatkan aktivitas masyarakat terhambat. Biaya untuk mengurus segala sesuatu serba mahal. Untuk sewa ojek saja, mestinya Rp.20 ribu menjadi Rp.50 ribu ke desa lainnya. Apalagi untuk sampai ke pusat Pemerintah Kecamatan atau Kabupaten Bima harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu.

“Ini yang membuat masyarakat kita berpikir dua kali ketika mau urus sesuatu kalau tidak punya cukup uang. Contohnya mau urus identitas kependudukan. Memang gratis, tetapi ongkos kendaraan yang mahal,” terang dia.

Ayatullah, Tokoh Pemuda Oi Bura menilai, pembangunan di Kabupaten Bima sangat tidak merata dan hanya bertumpu kecamatan tertentu. Padahal menurutnya, semua masyarakat punya hak yang sama untuk menikmati kue pembangunan.

“Bicara soal potensi desa, kita punya banyak keunggulan yang tak dimiliki desa lainnya. Disini kita punya Kebun Kopi peninggalan sejarah, kita punya kayu hasil hutan, kita punya aset wisata Gunung Tambora yang mendunia dan Cagar Budaya Uma Na’e,” paparnya.

Hanya dengan potensi itu saja kata dia, sudah menjadi alasan kuat bahwa Desa Oi Bura merupakan aset daerah. Apabila Pemerintah Daerah serius menata infrastruktur, maka dipastikannya taraf ekonomi masyarakat akan meningkat. “Tamu dari berbagai negara yang datang pasti akan meningkat dan merasa nyaman ke Tambora,” ujarnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *