Situs Uma Na’e Tambora Dibenahi

Kabupaten Bima, Kahaba.- Situs sejarah Uma Na’e (Rumah Besar, red) di Desa Oi Bura Kecamatan Tambora Kabupaten Bima saat ini mulai dibenahi. Bagian dalam rumah dilakukan pemugaran dengan mengganti plafon dan beberapa ornamen yang rusak. Sedangkan bagian luar dilakukan pengecatan ulang sehingga tampak baru dan bersih.

Situs Uma Na'e Tambora yang direnovasi.

Situs Uma Na’e Tambora yang direnovasi. Foto: Kahaba

Tak hanya itu, areal rumah yang dibangun pada Tahun 1932 ini sudah dibuatkan pagar keliling dari tembok. Sementara pondokan untuk penginapan para tamu dan Pendaki Gunung Tambora juga mulai dibenahi dan dibangun tambahan tiga unit.

“Pengerjaannya mulai dilakukan sebulan lalu. Informasi yang saya dapat, anggarannya merupakan bantuan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pariwisata. Tapi saya tidak tahu pasti berapa angkanya,” kata Suparno, Penjaga Uma Na’e kepada Kahaba kemarin.

Pria asal Pulau Jawa ini mengaku, pemugaran Uma Na’e dan pembangunan lainnya sudah diketahui Pemerintah Daerah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Bima. “Ada perwakilan dinas dan konsultan yang datang saat dimulai pengerjaan. Artinya pembangunan ini atas pengetahuan Pemerintah Daerah,” ujar Ayah lima anak ini saat wartawan berkunjung ke Uma Na’e.

Menurut Suparno, keberadaan Uma Na’e memang baru mendapat perhatian Pemerintah meskipun itu dari Pemerintah Pusat. Selama ini, perawatan situs sejarah tersebut hanya dilakukan seadanya oleh dia. Walaupun tak mendapat insentif khusus dari pemerintah, Uma Na’e baginya sudah menjadi bagian hidup dan pengabdian.

Suparno, Penjaga Uma Na’e. Foto: Ady

Suparno, Penjaga Uma Na’e. Foto: Ady

“Saya memang bukan orang asli Bima, tapi saya sudah genap 38 tahun disini. Merawat Uma Na’e, melayani para tamu asing berbagai negara dan menjadi saksi penemuan benda sejarah para Arkeolog,” akunya.

Ia berharap, Pemerintah Kabupaten Bima lebih memperhatikan lagi aset sejarah tak ternilai itu. Tidak dibiarkan usang dan lapuk dimakan usia. Sebab, keberadaannya menyedot perhatian dunia berikut Gunung Tambora.

“Kalau tidak ada yang istimewa disini, tidak mungkin para peniliti datang silih berganti. Saya yang bukan orang Bima saja sangat bangga memilikinya, apalagi Pemerintah Daerah yang punya aset,” kata dia.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *