Air Ketuban Tumpah di Tepian Air

Oleh: Musthofa Umar

Wakil Ketua KNPI Bidang Keagamaan, Seni, Budaya dan Pariwisata Kota Bima, Musthofa Umar, S. Ag., M.Pd.I. Foto: Erde

Musthofa Umar. Foto: Erde

Tulisan ini hanya bertujuan sebagai pengantar tafakkur dengan apa yang terjadi di lingkungan kita. Allah SWT yang kita yakini keberadaan-Nya telah menciptakan dan memberikan kita akal pikiran untuk berpikir dan menyadari akan kebesaran-Nya. Saling nasihat menasihati adalah jalan terbaik dalam menjaga dan mengaplikasikan rasa persaudaraan di antara sesama muslim kita. Bukan berarti saya yang menulis ini, lebih baik dari Anda yang membaca. Judul di atas, menggambarkan peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. seiring dengan perhelatan Mushabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi NTB di Kota Bima, tanggal 13 sampai dengan 19 September 2015 kemarin.

Upaya pemerintah Kota Bima, dengan memberikan fasilitas dan penyambutan kafilah peserta MTQ sangatlah mewah dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Nusa Tenggara Barat, bahkan mungkin se-Indonesia. beberapa komentar peserta, official dan pelatih yang hadir, sempat memuji cara dan penyambutan MTQ di Kota Bima. Tidak berlebihan jika saya mengatakan se-Indonesia. bayangkan saja, untuk MTQ tingkat Kelurahan saja, Kota Bima menggelontorkan dana 30 juta per Kelurahan, untuk pelaksanaan MTQ yang berlangsung dua sampai tiga hari saja. Dan hal ini tidak pernah dijumpai di Kabupaten/Kota se-NTB bahkan se-Indonesia untuk tingkat Desa/Kelurahan.

Tema yang diangkat dalam MTQ tingkat Provinsi kemarin, bahkan MTQ-MTQ yang sudah-sudah, mulai dari tingkat Kelurahan sampai Provinsi bahkan Nasional dan Internasional yakni, ingin mewujudkan masyarakat yang qur’ani, masyarakat yang berprilaku sesuai dengan al-Qur’an. Atau bisa juga membumikan al-Qur’an. Untuk Kota Bima, hal ini malah menjadi slogan yang ‘lalu’, “Kota Bima Berzakat, Maghrib Mengaji”. Namun seiring waktu, slogan ini mungkin untuk LPTQ atau Kementerian Agama saja. Dan Kota Bima mengambil slogan, “Kota Bima Berteman”. Sempat beberapa waktu lalu “berteman” diuji dengan perselisihan antara dua Kelurahan, yakni Dara dan Tanjung. Sehingga beberapa orang membuat plesetan, “berteman” menjadi “berantem”.

Atau yang ada dalam logo kita, “Maja Labo Dahu”. Entah seberapa nama dan slogan, pasti ada manfaat dan tujuan yang hendak dicapai. Tinggal kita sebagai bagian dari Kota ini, berkewajiban untuk mewujudkan slogan dan nama-nama itu. Tentu hal ini, haruslah didukung oleh niat kuat dan Istiqamah nya para pengambil kebijakan di sana. Karena pada dasarnya, setiap daerah punya visi dan misi dalam menggembangkan daerahnya, menjadi tujuan bersama yang tertera dalam logo dan slogan.

Mungkin cukup kita ‘ingat’ saja, “Maja Labo Dahu”, “Kota Bima Berteman”, “Kota Bima Berzakat Maghrib Mengaji”, mari kita lirik slogan baru kita, “Kota Bima, Kota Tepian Air”. Tulisan ini, bukanlah ‘cabe’ yang membikin pedas di bibir atau membuat kita sakit perut dan masuk angin. Tulisan ini hanya ingin membawa kita ‘membaca alam’ Kota Bima yang terjadi Pra MTQ dan Pasca MTQ. Hal ini, karena saya tidak bisa membaca, maka dengan saya menulis mungkin ada dari pembaca yang lebih panda dan cerdas membaca ‘alam’ Kota Bima dengan kejadian yang terjadi.

Masih kita ingat, satu minggu sebelum pelaksanaan MTQ ada penemuan mayat bayi di Kali Rio Kecamatan Rasanae Barat lokasi dilangsungkannya perhelatan MTQ  ke XXVI tingkat Provinsi. Dan masih segar juga dalam ingatan tiga hari setelah perhelatan MTQ, kembali penemuan mayat bayi di Kali Sadia II Kecamatan Mpunda Kota Bima. Dua kejadian ini, seolah-oleh ‘mengapit’ berada di antara pelaksanaan MTQ kemarin. Kasusnyapun sama, sama-sama dilakukan oleh oknum mahasiswi, asal Dompu, bukan asli bima, berarti sama-sama tinggal di Kos-Kosan, sama-sama aborsi dan sama-sama membuang hasil aborsinya di sungai.

Kalau kita melintasi semua sungai yang ada di Kota Bima, kita pasti tahu dan pernah membaca tulisan “Jangan Buang Sampah Di Sungai”. Apa karena tulisannya kurang lengkap, harus ditambah “Jangan Buang Sampah dan Bayi di Sungai” sehingga sampah tidak dibuang, tapi Bayi boleh?!. Atau Bayi dia ibaratkan dengan sampah?! Sehingga harus di buang di Sungai?! Apapun itu maksudnya, yang jelas itu manusia, punya nyawa dan berhak hidup dan melanjutkan kehidupannya. Rasa malu yang akan diterima, seandainya bayi itu dibiarkan hidup, telah membutakan mata batin ibu dan bapaknya yang menjadi pembunuh anaknya sendiri.

Pasti ada yang berkata, “manusia, bisa salah dan khilaf” dan saya pun manusia bisa juga salah dan khilaf, seperti yang saya sampaikan di atas, belum tentu lebih baik dari Anda dan dia yang berbuat. Namun bisakah kita berusaha, berikhtiar dan berdo’a serta mengaplikasikannya untuk kita pribadi, keluarga dan lingkungan serta teman dekat kita?. Pernyataan Ketua MUI Kota Bima beberapa waktu lalu di media, tentang kurangnya pelajaran agama di Kampus juga harus disikapi serius oleh para pemilik kampus. Kampus masih terselamatkan oleh istilah media, “salah satu kampus swasta di Kota Bima”. Bagaimana kalau nama Kampusnya di sebuat? Nama Kos-Kosan disebut? Keluarahannya disebut? Kecamatannya disebut? Dan Kotanya disebut?. Tentu jawabannya, siapa dan siapa. Mengapa dan kenapa? Dari itu, Kampus haruslah bersikap arif, bersikap bijaksana melihat kearifan lokal, kopetensi lokal Kota Bima yang religius. Kota Bima yang mengharumlan nama bangsa dengan alunan-alunan Qori’-Qori’ahnya di kancah Nasional bahkan Internasional.

Jika Agama tidak masuk dalam silabus, bisakah itu masuk dalam kegiatan-kegiatan ekstra kampus yang di masukkan dalam syarat dan prasyarat ujian dan sebagainya, sehingga mahasiswa mau tidak mau wajib mengikuti. Karena pada hakekatnya, mahasiswa yang kita terima, tidak semua berasal dari lulusan SMA Pondok Pesantren atau Madrasah Aliyah yang sedikit tidak pernah mengetahui pelajaran agama. Bisa jadi dari kampung mereka, tidak pernah membaca al-Qur’an, Sholat, Belajar di TPQ atau tidak jelas islam apa tidak. Seagai pengelola Kampus, tentu kewajiban menjadikan lulusan terbaik itu sudah menjadi tanggung jawab. Terbaik dalam hal hasil mata kuliah, dan terbaik dalam etika akhlak berbangsa dan beragama. Kalau rasa Kampus tidak cukup memberi warna, cobalah rasa kemanusiaan dan rasa beragama kita. Sesama Muslim wajiblah membimbing muslim yang lain ke arah yang benar, agar Islam tegak tanpa roboh sedikitpun dengan prilaku pemeluknya.

Islam agama yang besar, namun jika semua pemeluknya acuh tak acuh dalam menjalankan agamanya, maka secara tidak sadar, pelan-pelan agama itu akan hancur dengan sendirinya. Jika kita sebagai pngemban amanah (pemimpin) haruslah mengambil peran penyelamatan dengan membimbing dan mengupayakan mereka ke arah yang sesuai dengan tuntunan agama. Memang hidayah Allah SWT kepada siapa yang Dia kehendaki, namun manusia masih ada kesempatan untuk menjemput hidayah tersebut dengan cara berusaha dan berdo’a.

Kembali dengan tujuan MTQ mewujudkan masyarakat Qur’ani, adalah menginginkan pemeluk Kota Bima dalam dadanya tertanam al-Qur’an. Prilaku, pergaulan dan gaya hidup haruslah berdasar pada al-Qur’an. Tugas berat Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) dan para da’i, ulama’ serta pemerintah untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Agar seimbang pengeluaran yang di keluarkan dengan hasil yang diinginkan.

Prilaku melahirkan paksa, atau memaksakan ketuban pecah (aborsi), selain melawan hukum agama, juga hukum negara. Apalagi sampai membuang di aliran sungai sangatlah jahiliyah, namun apapun itu sudah terjadi. saat ini bagaimana cara kita semua, untuk mencegah hal itu tidak terjadi kembali. Jelas tindakan seperti itu, jauh dari Qur’ani, jauh dari ajaran al-Qur’an, kitab yang kita pedomani sebagai petunjuk jalan hidup kita, yang menjadi pembeda antara yang haq dan bathil dan pada akhirnya mengantarkan manusia kelak, bertemu Tuhannya dengan senyum atau cemberut.  MTQ yang telah diselenggarakan, atau akan diselenggarakan nanti, haruslah betul-betul menjadi tuntunan, bukan sebaliknya dijadikan tontonan. MTQ adalah ibadah, dalam upaya membumikan al-Qur’an, melantunkan ayat-ayat al-Qur’an masuk ke dalam dada dan setiap langkah kita. Bukan sebaliknya, sekedar terealisasi program kerja, sekedar ‘menyanyikan merdu’, bukan sekedar mengejar juara atau sekedar numpang terkenal saja.

Kota Bima dengan predikat Juara Umum berturut-turut, bahkan sering menjadi juraa umum dan mempunyai segudang Qori’ dan Qori’ah berlevel Nasional bahkan Internasional, menjadi tantangan sendiri, dengan besarnya ujian dan fitnah juga akan prilaku-prilaku yang jauh sebenarnya dari al-Qur’an. Memang tidaklah mungkin ini dibebankan kepada para Qori’ dan Qori’ah, Da’i, Ustad dan Ustadzah atau dalam bentuk lembaga, MUI, Kementerian Agama, atau Pemerintah namun kesadaran kita bersama. LPTQ mengambil peran untuk terus menggalakkan al-Qur’an dari semua segi, isi dan aplikasi bukan sekedar lagu yang merdu. Kampus juga mengambil peran dalam kegiatan-kegiatan ekstra kampus mengenai pengetahuan agama. Sekolah sebagai pencegahan dini, untuk memberikan IMTAQ kepada siswa-siswanya.

Pemerintah menjadi ujung tanggung jawab, bisa merubah keadaan ini melalui Perda Kos-kosan, melalui Pak RW dan RT, melalu Pak Lurah dan Camat dengan menjalankan 2×24 jam harus lapor. Pemilik dan pengguna Kos haruslah taat kepada aturan yang ada, jam mana yang boleh dikunjungi laki-laki dan perempuan atau boleh campur atau tidak antara anak kos laki-laki dan perempuan. Tempat-tempat yang ‘menjanjikan’ untuk melakukan perbuatan negativ harus diantisipasi dengan aturan dan tindakan yang tegas.

Dengan bantuan dan Hidayah Allah SWT, saya pun berlindung dari ujian dan fitnah yang demikian. Harapan saya dan kita semua, dengan menulis, menasehati dan berbuat kebaikan, menjadikan pelajaran bagi kita sendiri untuk tidak melakukan hal demikian. Dan jika sudah terjadi, kita serahkan proses hukum kepada Negara, namun prihal mental spritualnya adalah tanggung jawab kita bersama. Pendidikan bukanlah mencari dan mencetak yang Cerdas dan Pintar apalagi sekedar Bisa Kerja. Namun pendidikan adalah bertujuan menjadikan anak didik menjadi orang Baik. Pintar dan Cerdas namun tidak Baik, lebih berguna Bodoh namun orangnya Baik. Sempurnanya jika Pintar, Cerdas dan Baik. Wallohul Musta’an..

*Penulis adalal Penyuluh Agama Islam dan Ketua Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Kota Bima.

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Bambang Setiawan

    syukron pak mustofa…artikel yg bermanfaat…secara pribadi sy sangat mengapreseasi pemikiran bapak..namun ada beberapa hal yg menarik utk di kaji..mhn maaf kalau ada yg keliru…
    pertama, kota bima kota tepian air itu bukanlah slogan ataupun semboyan, namun hanyalah salah satu konsep pendekatan pembangunan dalam sebuah penataan ruang…dimana konsepnya bhwa pembangunan fisik dan non fisiknya menghadap ke air (baca; laut, sungai, dan sumber air lainnya)…ini merupakan cara pandang kita utk “menghargai” air sebagai sumber kehidupan, yang selama ini sering kita abaikan keberadaannya..
    kedua, saya sepakat bahwasanya penyelenggaraan MTQ sekarang cenderung hanya sebuah tontonan belaka bukan tuntunan. Hemat sy, perlu ada langkah yg lebih preventif di lingkungan yang paling bawah selain di sekolah yakni mulai dari keluarga, RW dan kelurahan..berupa implementasi penanaman nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari ini yg lebih di utamakan…bukan kegiatan seremonial yg sering kita hadapi sekarang ini. Demikian..mohon maaf kalau ada yg salah..mudah2n Bima ke depan selalu di Rahmati Allah SWT…Aamiin..#SaveBima.

  2. M

    Yang tdk kalah penting adl peran dari org tua&keluarga para pelajar&”maha”siswa/i . . . Bila dr kecil sdh memiliki pondasi yg kuat akan AGAMA, walau hidup/tinggal dimanapun mudah2an tidak terpengaruh. Ikan dilaut tidak ada yg rasax asin selama dia masih hidup, kecuali sdh mati. Begitu jg dengan IMAN seseorang . . .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *