Maryam Tegaskan Istana Bima Milik Kesultanan

Kota Bima, Kahaba.- Ahli Waris Kesultanan Bima, Hj. Siti Maryam Salahuddin menegaskan bahwa status Istana Bima yang kini menjadi Museum ASI Mbojo merupakan hak milik Kesultanan. Sejak dulu hingga kini, Istana Bima belum pernah diserahterimakan atau diambil alih kepemilikannya oleh Pemerintah Daerah.

Ahli Waris Kesultanan Bima, Hj. Siti Maryam Salahuddin saat memberikan keterangan pers. Foto: Noval

Ahli Waris Kesultanan Bima, Hj. Siti Maryam Salahuddin saat memberikan keterangan pers. Foto: Noval

Penegasan itu disampaikan Ina Ka’u Mari (Maryam), Jum’at (2/10) siang di kediamannya Muesum Samparaja, menjawab rumor yang beredar bahwa Istana Bima berstatus milik Pemerintah Kabupaten Bima.

Menurut Mantan Anggota DPR RI ini, Istana Bima sejak dibangun Tahun 1927 oleh Sultan tidak pernah diserahkan status kepemilikannya. Adapun pada Tahun 1955 Pemerintah Daerah hanya dititipkan untuk menjaga dan mengelola. Mengingat saat itu pihak Ahli Waris sempat ke Jakarta dalam waktu cukup lama.

“Istana Bima itu dibangun oleh Sultan dibantu masyarakat, bukan oleh pemerintah menggunakan anggaran daerah. Jadi statusnya adalah milik Kesultanan,” tegas Ina Ka’u Mari kepada Kahaba.net.

Fungsi Istana kala itu terangnya, menjadi tempat tinggal Sultan sekaligus pusat dilaksanakannya pertemuan dan kegiatan bersama masyarakat. Karena masa Kesultanan berakhir, dalam perkembangannya dijadikan Museum ASI Mbojo oleh pemerintah atas persetujuan Ahli Waris.

Karena Istana Bima merupakan bangunan bersejarah lanjutnya, maka dijadikan cagar budaya yang menjadi aset bersama masyarakat, pemerintah dan Ahli Waris Kesultanan. Sehingga ada kewajiban bersama untuk merawat serta melestarikannya.

“Jadi Istana Bima boleh saja dipakai, tetapi jangan salah kaprah statusnya tetap milik Kesultanan,” tegasnya didampingi Ajudannya, Dewi Ratna Muchlisa dan Abdul Karim dari pihak keluarga.

Sambung Maryam, apabila ada rencana Pemerintah Kabupaten Bima menyerahkan Istana Bima ke Pemerintah Kota Bima maka itu dinilai keliru. Sebab, semuanya harus tetap mendapat persetujuan dari Ahli Waris Kesultanan. Pihaknya berkeinginan, ada jalinan kerjasama dan kesepakatan dalam pengelolaan Istana Bima antara pemerintah dan Ahli Waris.

Begitupun rencana ingin menjadikan Museum kembali sebagai Istana terangnya, pemerintah disarankan membangun terpisah Museum ASI Mbojo agar fungsi Istana seperti sedia kala. Hal itu juga bertujuan untuk menjaga keaslian bangunan dan benda-benda bersejarah di dalamnya.

“Kami sudah bersurat kepada Walikota Bima meminta bantuan agar tembok pembatas yang dibangun baru di dalam lapangan dibongkar, agar kondisi lapangan seperti semula,” tambahnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *