2016, Tambora Prioritas Tunjangan Terpencil

Kabupaten Bima, Kahaba.- Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Bima mengisyaratkan akan memprioritaskan Guru-Guru yang mengabdi di Kecamatan Tambora untuk mendapatkan tunjangan daerah terpencil pada Tahun 2016 mendatang. Selain itu, dua kecamatan lain juga masuk target yakni Kecamatan Langgudu dan Lambu bagian timur. (Baca. GTT di Tambora Harapkan Tunjangan Terpencil)

Kabid Dikdas Dinas Dikpora Kabupaten Bima, H Asrarudin. Foto: Ady

Kabid Dikdas Dinas Dikpora Kabupaten Bima, H Asrarudin. Foto: Ady

Demikian disampaikan Kepala Dinas Dikpora Kabupaten Bima melalui Kabid Dikdas, H Asrarudin kepada Kahaba.net, Jum’at (2/10) pagi menjawab keluhan Guru Tidak Tetap (GTT) di SDN Tambora.

“Rancangan kita bersama Kepala Dinas Dikpora memang akan memprioritaskan tiga Kecamatan pada Tahun 2016 nanti. Yakni Kecamatan Tambora, Langgudu dan Lambu bagian timur,” kata H. David, sapaan akrab H. Asrarudin di ruang kerjanya.

Menurutnya, Kecamatan Tambora memang salah satu daerah terpencil yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebab, letaknya berada jauh dari pusat pemerintahan dan minim infrastruktur. Untuk itu, Tambora dijanjikan akan menjadi garapan prioritas bersama dua kecamatan lainnya.

“Saya bahkan sudah menyampaikan itu saat dialog dengan pusat, bahwa kecamatan paling jauh dari pusat pemerintahan dan sangat minim infrastruktur adalah Tambora,” ujarnya.

Hanya saja lanjutnya, guru yang berhak menerima tunjangan juga harus memenuhi persyaratan. Yakni memiliki NUPTK dan punya jam mengajar. Kemudian data guru penerima diusulkan sekolah masing-masing dengan sistem online yang dikenal dengan Dapodik. Data itu akan dikirim ke pusat dan diseleksi lagi mana yang memenuhi persyarata.

“Catatan terpentingnya, data yang dikirim harus valid dan berdasarkan jumlah kuota dari Pemerintah Pusat sebanyak 719 untuk Kabupaten Bima Tahun 2015. Jadi tidak semua guru menikmati. Pengiriman data paling lambat Tanggal 7 Februari 2015 lalu,” akunya.

Ia menegaskan, kevalidan data yang dikirim sangat menentukan. Kalau data salah, maka tunjangan tidak bisa diterima sekalipun faktanya guru tersebut mengajar di daerah terpencil. Sebab, Ia kerap mendapat informasi ada guru yang menggunakan jasa orang lain untuk mengirim karena kurangnya fasilitas di daerah mengajar. Padahal, konsekuensinya tidak ada jaminan data tersebut benar-benar dikirim.

“Kalau gurunya cerdas, ketika tidak ada internet, maka datang ke tempat yang ada internetnya. Kalau menggunakan jasa orang lain, belum tentu dikirim lagi. Hal itu merugikan diri sendiri,” tuturnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *