Kekerasan Anak Meningkat, Dewan Prihatin

Kabupaten Bima, Kahaba.- Lembaga Legislatif mengaku prihatin dengan terus meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Bima. Apalagi sampai mendapatkan predikat sebagai daerah tertinggi kasus kekerasan anak di NTB merupakan kondisi menguatirkan. (Baca. Kabupaten Bima Tertinggi Kasus Kekerasan Anak di NTB)

Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Bima, M. Karman. Foto: Ady

Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Bima, M. Karman. Foto: Ady

Demikian disampaikan Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Bima, M Karman kepada Kahaba.net, Kamis (8/10) pagi menanggapi data yang dirilis Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Propinsi NTB.

Menurut Karman, kasus kekerasan anak di Kabupaten Bima harus segera disikapi serius bila melihat data dari LPA tersebut. Pemerintah Daerah, DPRD, bersama unsur terkait harus duduk bersama membahas langkah strategis sebagai upaya penanggulanggan.

“Ini merupakan tanggungjawab kita bersama karena anak merupakan generasi penerus bangsa. Semua harus menyikapinya. Terlebih Pemerintah Daerah dan Legislatif harus memberikan atensi khusus terhadap kasus ini,” ujarnya.

Ia juga mengharapkan, kepada orangtua sebagai lingkungan terdekat anak agar lebih protektif mengawasi pergaulannya. Tidak membiarkan anak begitu saja tanpa pengawasan. Sebab, potensi ancaman juga kerap terjadi di sekitar lingkungan masyarakat pergaulan anak.

“Kita harus akui, kekerasan terhadap anak menjadi perhatian nasional karena terus meningkatnya kasus dari tahun ke tahun. Namun, semua kembali ke lingkungan kita untuk lebih respek mengawasi anak dari ancaman tindak asusila,” kata dia.

Karman menegaskan, dirinya akan segera berkoordinasi dengan Anggota Komisi IV lainnya untuk membahas kasus kekerasan anak. Sekaligus mencari langkah strategis bersama pihak terkait untuk penanggulangan kasus tersebut agar tidak semakin meningkat.

*Ady

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *