SMI Serukan Tolak Pilkada Serentak

Kota Bima, Kahaba.- Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Bima, Senin (12/10) pagi menyerukan menolak pelaksanaan Pilkada serentak di seluruh Indonesia, termasuk di Kabupaten Bima. Seruan itu disampaikan dalam aksi damai di Perempatan Gunung Dua Kota Bima.

SMI Bima saat menggelar aksi di Cabang Gunung Dua Kota Bima. Foto: Bin

SMI Bima saat menggelar aksi di Cabang Gunung Dua Kota Bima. Foto: Bin

Para mahasiswa beralasan, Pilkada serentar dalam konsep demokrasi saat ini hanya akan melahirkan pemimpin-pemimpin borjuasi dan menjadi budak kaum pemodal. Situasi seperti ini dalam analisa mereka, akan membuka peluang bagi calon pemimpin di daerah untuk menawarkan banyak janji untuk menyejahterakan masyarakat.

“Pilkada serentak hanya akan melahirkan karakter pemimpin borjuasi dan gencar membangun kesadaran ilusi. Mereka hadir seakan-akan menawarkan solusi, padahal setelah jadi nanti janji itu hanya untuk kaum pemodal,” kata Koordinator Aksi, Faruk dalam orasinya.

Tak hanya itu menurut Faruk, masyarakat menjadi korban demokrasi dan janji para Politisi. Sebab faktanya, ketika masyarakat dirundung persoalan tidak pernah ada untuk memperjuangkan nasib mereka.

“Kemana mereka saat rakyat dibuat terdesak dengan kenaikan BBM? Kemana mereka ketika tanah-tanah rakyat dirampas untuk dibangun gedung-gedung bagi pemodal,” ujar dia menyodorkan sejumlah pertanyaan yang menjadi fakta kehidupan masyarakat.

Untuk itu tegasnya, SMI menyatakan sikap untuk menolak Pilkada serentak dan tidak memilih siapapun dalam Pilkada 9 Desember mendatang. Pihaknya juga seruannya menawarkan solusi, agar negara melakukan reformasi agraria sejati, nasionalisasi aset-aset vital negara di bawah kontrol rakyat, pendidikan gratis dan melakukan industrialisasi nasional yang kuat dan mandiri.

*Bin/Ady 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *