Abdurrahman: Pernyataan Amira itu Fitnah Belaka

Kota Bima, Kahaba.- Tidak terima dengan seluruh pengakuan Amira dalam pemberitaan (Berita sebelumnya ditulis Namira), Abdurrahman, suami Amira akhirnya angkat bicara dan menuding pernyataan istri yang memberinya tiga orang anak itu, Fitnah belaka.

Abdurrahman, suami Amira. Foto: Bin

Abdurrahman, suami Amira. Foto: Bin

”Semua pernyataan itu tidak benar. Saya telah difitnah. Amira telah menginjak harga diri saya sebagai suaminya dan merusak nama baik saya dan keluarga saya,” tegas Abdurrahman saat memberikan klarifikasi, Minggu (25/10). (Baca. Aniaya Istri, Suami Dilapor Polisi)

Kepada Kahaba.net, ia mengaku rumah tangganya baik – baik saja dan tidak ada masalah. Permasalahan kemudian muncul saat dirinya dari Toko pulang ke rumah, Rabu (1410), sekitar pukul 18.30 Wita. Tiba di kamar, istrinya kemudian mencaci maki dan mengeluarkan kata kata kotor.

“Saya kaget, tapi saya belum merespon, dan masuk kamar Mandi. Amira masih saja melontarkan kata kata kotor dan menuding keturunan saya kurang ajar,” ujarnya.

Tidak terima diperlakukan seperti itu, dirinya merespon dan meminta agar dirinya dihargai sebagai suami juga sebagai kepala keluarga. Namun cekcok semakin menjadi. Kata kata kasar terus dilontarkan Amira. Karena tidak kuasa, Abdurrahman pasrah mendengar ocehan istrinya.

Setelah keluar kamar mandi, ia kaget karena istri dan tiga anaknya tidak ada dirumah. Dua orang pembantu yang mengantar mereka kemudian bercerita jika Amira dan anaknya pergi naik ojek, hendak ke Kota Bima. Beruntung saat itu ada Fuad, keluarganya yang melihat Amira dan meminta agar kembali dan mengantarkan Amira dan anak anak ke rumah Fuad.

“Pengakuan Fuad sempat menasehati Amira dan diantar kembali kerumahnya. Saat itu ada saya dan kedua orang tua saya. Dia turun dari motor seolah tidak ada penyesalan, dan masuk kamar,” ucapnya.

Abdurrahman melanjutkan, masalah kembali terjadi keesokan hari. Paginya, ia menyuruh pembantu untuk mengambil baju anak-anaknya dan dimasukin ke tas, tapi Amira melarang. Dirinya pun meminta baik-baik pakaian tersebut, dengan maksud ketiga anaknya dititip sementara waktu di rumah Kakak Abdurrahman.

Karena tidak mendapat respon dari istrinya, tarik menarik tas pun terjadi, sampai baju Abdurahman robek. Waktu itu Amira juga memukulinya sampai mengalami luka dan memar dibagian jidat kanan.

Masalah kemudian berlanjut lagi pukul 13.00 Wita, waktu itu datang segerombolan orang, masing-masing Bapak, Ibu dan Paman Amira, masuk pekarang rumah tanpa sepengetahuannya. Setelah itu, Amira turun dari rumah sembari membawa anaknya yang masih berusia tiga bulan dan menyimpan di Mobil orang tua Amira.

Tidak berselang lama, Amira kembali masuk dalam rumah menghampiri Erna, Saudari Abdurrahman, yang sedang menggendong anak mereka yang pertama, berusia tiga tahun, kemudian menampar Erna berkali kali.

“Waktu itu Bapak dan Pamannya Amira juga turun mobil dan memegang Erna dan mengeroyok. ?Erna mengalami luka serius akibat kejadian itu,” ungkapnya.

Usai Erna dikeroyok, anak Abdurrahman yang kedua kemudian diambil paksa di dalam kamar pembantu. Kadira, kakaknya yang mendengar ada kegaduhan kemudian bertanya apa gerangan yang terjadi. Waktu itu Bapaknya Amira juga menyikut Kadira hingga memar di dada.

“Saat itu saya tidak ada di rumah, tapi saya pulang Erna menceritakan semuanya. Istri dan anak – anak saya tidak ada dirumah,” tuturnya.

Abdurrahman mengaku, kejadian yang sebenarnya lah yang diceritakannya. Sementara cerita Amira hanya fitnah dan telah mencemarkan nama baiknya dan keluarganya. Ia pun telah melaporkan Amira ke Polisi, karena telah memfitnah dan merusak nama baiknya.

Menjawab soal luka lebam disekujur tubuh Amira atas penyiksaan yang dilakukannya, Ia membantah telah menganiaya istrinya. “Saya tidak pernah menyiksa Amira, semua keterangannya itu bohong dan fitnah,” tambahnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *