Diduga, Sekda Ancam Wartawan dengan Pedang

Kota Bima, Kahaba.- Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bima, HM. Rum terpaksa dilaporkan ke pihak Kepolisian. Pasalnya, pejabat tinggi di Kota Bima ini diduga melakukan pengancaman terhadap wartawan, Syafrudin dengan menggunakan senjata tajam.

Syafrudin saat menunjukan bukti surat pengaduan usai melapor di Polres Bima Kota. Foto: Ady

Syafrudin saat menunjukan bukti surat pengaduan usai melapor di Polres Bima Kota. Foto: Ady

Insiden itu terjadi secara spontanitas di depan Kediaman Sekda di Kelurahan Sadia Kota Bima pada Senin (2/11) sekitar pukul 16.15 Wita. Dalam laporan pengaduannya, korban mengaku diancam dibunuh menggunakan pedang tanpa sebab yang pasti.

Saat itu, korban yang juga Pimpinan Redaksi Koran Metro NTB tersebut baru pulang dari Kantor DPRD Kota Bima dan hendak kembali ke rumahnya di Sadia. Dalam perjalanan pulang, Ia berhenti di depan rumah Safran yang bertetangga dengan Sekda.

“Karena melihat Sekda saya sempatkan berhenti dan menyapa dengan salam. Saya merasa memang tidak pernah terjadi apa-apa dengan Sekda sehingga biasa saja,” ungkap Syafrudin di depan Ruang SPKT Polres Bima Kota usai melapor.

Namun belum usai menjawab salam, Sekda spontan memintanya untuk menunggu sebentar dan bergegas masuk ke dalam rumahnya. Ia pun menunggu dengan pikiran ada hal penting yang ingin dibicarakan Sekda dengannya.

“Tiba-tiba Sekda kembali membawa pedang dan mengancungkannya ke saya sambil mengancam akan membunuh. Saya pun kaget dengan sikap Sekda seperti itu dan sempat menjawab silahkan saja bunuh saya,” akunya.

Merasa keselamatannya terancam, wartawan senior ini memilih menghindar dan melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bima Kota saat itu juga.

“Saya tidak seorang diri, ada tiga saksi yang melihat Sekda mengancam saya dengan pedang. Yakni Safran, Mahrun dan Tasrif yang kebetulan ada di lokasi saat kejadian,” bebernya.

Petugas Sentra Pelayanan Terpadu Kepolisian (SPKT) Polres Bima, AIPTU Haryono membenarkan telah menerima laporan pengaduan dari Syafrudin. Semua keterangan awal pelapor telah diambil, seperti yang diceritakan, untuk selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Sat Reserse Kriminal.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Suruh noro oi mangge di penjara sekda itu. Sudah krisis moral dia. Punya wanita simpanan ditambah kejar2 wartawan, itu menandakan dia tidak bisa menjadi seorang public figur. Pecat saja dia itu…masaa mental sekda semacam preman. Atau mungkin dia diangkat jadi sekda krn jadi tukang gertak ya, maklum lahhh….rata2 banyak yg jadi preman jadi pejabat birokrasi. “Preman berdasi”.

  2. yus

    Nah ini dia nih….kita tunggu proses hukumnya, gimana penegakan hukum atas pejabat publik, bagaimana jurnalistik memberitakan dan bagaimana sikap korban kedepannya. apakah damai lalu laporan dicabut? ataukah terus berjalan, atau…..beritanya hanya sampai disini, kita tunggu aja siapa yang idealis

  3. yus

    Nah ini dia nih….kita tunggu proses hukumnya, gimana penegakan hukum atas pejabat publik, bagaimana jurnalistik memberitakan dan bagaimana sikap korban kedepannya. apakah damai lalu laporan dicabut? ataukah terus berjalan, atau…..beritanya hanya sampai disini, kita tunggu aja siapa yang idealis, moga aja jurnalis independen dan pengak hukum tidak pandang bulu

  4. albannahasan

    Apa tdk sebaikx meminta klarifikasi dulu dari pak sekda
    Kalo spontanitas tdk mungkin, pasti ada sebab musabab shg tjd hal demikian
    Informasi yg seimbang dri ke2 belah pihak penting skali agar berita bersifat obyektif

  5. ncuhi

    sy sangat setuju dengan albannahasan, terkadang media jg salah karena terkesan menyampaikan berita sepihak tanpa konfirmasi dari pihak lain. contohnya : kita hanya disuguhi berita sekda melakukan pengancaman hnya berdasarkan pengakuan syafruddin. sedangkan ket. yang menguatkan kebenaran kejadian tersebut tidak ada sama sekali (jgn2 ini cuma HOAX) harusnya media menyampaikan berita yang berimbang.. lakukan konfirmasi ke sekda terlebih dahulu (sekda jg punya hak) atau minimal kumpulkan keterangan dari saksi yg melihat kejadian tersebut baru d kabarkan… klo seperti ini kesannya media melakukan penggiringan opini…. untuk pembaca : jadilah pembaca yang cerdas
    wassalam…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *