Semua Agama Berpotensi Muncul Terorisme

Kota Bima, Kahaba.- Paham radikal dan terorisme yang marak belakangan ini, selalu diarahkan dunia barat pada Agama Islam. Seperti tragedi terbaru di Paris-Prancis, Agama Islam kembali menjadi kambing hitam.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Profesor Azyumadri Azra. Foto: Ady

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Profesor Azyumadri Azra. Foto: Ady

Padahal menurut Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Profesor Azyumadri Azra, semua agama berpotensi munculnya paham dan gerakan terorisme. Selain itu, terorisme tidak mesti berlandaskan agama karena bisa saja dengan banyak motif. Terlebih lagi, Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan permusuhan.

“Dalam Majalah Time Amerika, bahkan pernah merilis tulisan dengan judul Budish Terorism. Itu artinya, semua agama punya potensi munculnya paham dan gerakan terorisme,” kata Profesor Azyumadri saat menjadi narasumber Sarasehan Regional yang digelar Gerakan Pemuda Ansor Kota dan Kabupaten Bima, Selasa (17/11) pagi di Gedung Convention Hall Manggemaci.

Dalam pandangannya, Azyumadri berpendapat bahwa selama 15 tahun terakhir memang gerakan radikalisme terus mengalami peningkatan. Namun sayangnya, Agama Islam selalu dituduhkan menyemai benih-benih radikalisme. Sehingga muncul persepsi minor dunia terhadap umat Islam.

Jika ditelisik kata dia, gerakan radikalisme seperti yang kerap terjadi di Negara Timur Tengah hampir semuanya disebabkan karena faktor politik. Kondisi politik negara yang tidak stabil akibat pemimpin yang diktator memicu munculnya kelompok-kelompok sipil yang menginginkan perubahan. Kelompok ini kemudian melakukan perlawanan terhadap negara.

“Aktor-aktor dibalik gerakan radikalis kelompok tersebut tidak ada kaitannya dengan agama. Dan gerakan itu menimbulkan lingkaran setan. Yakni pertentangan yang tak pernah habis, balas dendam, permusuhan dan pembunuhan,” tuturnya.

Sehingga menurut dia, stabilitas politik suatu negara menjadi prasyarat pembangunan seperti yang pernah disampaikan Mantan Presiden Indonesia, Soeharto.

Di Negara Indonesia sambungnya, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi terorisme demi menjaga keutuhan NKRI. Peran Ormas Islam seperti Nadhlatul Ulama dan Muhammadiyah melalui konsep Islam moderat dan toleran telah ikut membantu tugas negara memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Selain Profesor Azyumadri Azra, Sarasehan dengan tema Strategi Pencegahan dan Penanggulangan Radikalisme dan terorisme di wilayah Nusa Tenggara juga menghadirkan narasumber dari Instruktur BNPT, Kapolda NTB, dan Ketua MUI Kabupaten Bima. Melibatkan peserta dari Kota dan Kabupaten Bima, dari Dompu, Sumbawa, Lombok, serta dari NTT.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *