Yusi Apresiasi Semangat Karya Sastra di Bima

Kota Bima, Kahaba.- Yusi Avianto Pareanom, sastrawan Nasional, mengapresiasi semangat yang dilakukan para pegiat sastra di Bima. Kegiatan Apresiasi Seni Pekan Budaya yang digelar Dewan Kesenian Kota Bima itu dinilainya sebagai acara yang sangat menyenangkan.  (Baca. Lima Sastrawan Nasional Baca Sastra di ASI Mbojo)

Yusi Avianto Pareanom saat membacakan karya ssastranya di Museum ASI Bima. Foto: Bin

Yusi Avianto Pareanom saat membacakan karya ssastranya di Museum ASI Bima. Foto: Bin

Pria asal Jakarta yang hadir membacakan karya sastra mereka di Pelataran Museum ASI Mbojo, bersama empat orang sastrawan lain masing – masing Ahda Imran (Bandung), AS Laksana (Jakarta), Joko Pinurbo (Yokyakarta) dan Wayan Sunarta (Bali), melihat antusiasme kegiatan tersebut, sebuah harapan untuk merangsang tumbuhnya sastra di Bima.

“Harapannya acara seperti ini menjadi acara rutin. Tidak harus dengan orang yang sama, tapi teman – teman dari daerah lain juga bisa datang ke Bima, teman – teman di Bima juga bisa mampir ke daerah lain. Dengan begitu, saling kenal, asik, bisa saling ngobrol dan tukar pikiran,” ujarnya.

Yusi mengaku, ia dan teman-temannya datang ke Bima, karena bagian dari agenda bersama dengan para sastrawan untuk berkunjung ke berbagai daerah. Tidak hanya di Bima, seperti Mataram dan Kupang dan beberapa daerah lain juga dijadwalkan untuk dikunjungi. Tujuannya, belajar dan berbagi pengalaman.

Selain memberi apresiasi terhadap kegiatan tersebut, ia juga mengapresiasi semangat peserta yang hadir, terutama dari kalangan pelajar. Sebab, belajar sastra itu memang harus dari usia pelajar.

“Ini sangat baik. Pesan saya juga ke pelajar, membaca itu menyenangkan, karena dengan membaca, sekali pun kita ada dalam satu titik, maka pikiran bisa kemana mana. Dengan membaca juga, referensi dalam perkembangan sastra juga akan semakin baik,” jelasnya.

Yusi juga berharap, agar para pegiat sastra di Bima juga memperbanyak membaca. Karena semangat yang besar dalam sastra juga perlu referensi yang lebih banyak, agar bentuk ekspresinya juga lebih beragam.

“Mas odet dan Dilla Lalat puisinya kurang lebih sama. Jika makin banyak referensi, maka bentuk – bentuk ekspresi dalam sastra juga bisa lebih banyak. Tapi saya bangga dengan semangat yang mereka miliki dalam dunia sastra,” pujinya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *