Pilkada Hari Ini, Anggota SMI Pilih Golput

Kabupaten Bima, Kahaba.- Semua pengurus dan anggota organisasi Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Cabang Bima memilih tidak memberikan hak suara alias Golongan Putih (Golput) pada Pilkada Kabupaten Bima hari ini.

SMI Bima saat menggelar aksi di Cabang Gunung Dua Kota Bima. Foto: Bin

SMI Bima saat menggelar aksi di Cabang Gunung Dua Kota Bima. Foto: Bin

“Komitmen kami masih sama seperti Pilkada sebelumnya, menolak Pilkada dan tidak memberikan hak pilih. Itu berlaku untuk semua anggota dan pengurus,” kata Ketua SMI Cabang Bima, Dillon Pranata dihubungi Kahaba.net via handphone, Rabu (9/12).

Dillon menegaskan, penolakan terhadap Pilkada merupakan keputusan bersama dalam organisasi. Sikap itu tidak hanya berlaku di Cabang Bima, tetapi seluruh Indonesia.

“Ini keputusan SMI seluruh Indonesia dan semua anggota yang di daerahnya melaksanakan Pilkada wajib melaksanakannya,” tegas dia.

Alasan penolakan kata Dillon, sudah kerap disuarakan SMI pada setiap kesempatan aksi damai. Diantaranya menilai, sistem demokrasi Pilkada yang dilaksanakan saat ini hanya akan melanggengkan tirani kekuasaan dan melahirkan pemimpin borjuis.

“Kami punya anggota sekitar 90 lebih di Kabupaten Bima, mereka tetap pada komitmen bersama untuk Golput. Namun, kami tetap mengawal berjalannya Pilkada,” tandasnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. yus

    20 juta anggota SMI golput, gak ngaruh ntuh ma pilkada, gak ngaruh ntuh ma pesta demokrasi, dan gk ngaruh ma pemerintah, 20 juta anggota SMI demo juga gk ngaruh ma pemerintah, mungkin krn gk dianggap kali….krn mreka Golput,

    • Terlalu sempit cra saudara berpikir, memahami dan memaknai golput dri berpengaruh atau tdknya dlm pemilu skrg. Org satu Desa sy aja 120 org yg gak ikut memilih dri 290 org, apalg anggota SMI lebih kurang 90 di kota dan kbupaten bima. Jadi, bkn soal ngaruh atau tdk ngaruhnya trhadap proses pemilu skrg, tp soal prinsip dan sikap politik organisasi. Kalau saudara pernah blajar berorganisasi dan berpolitik sy yakin tdk akan mengeluarkan pernyataan seperti itu.

    • Wance, mana yg saudara pilih jadi pengecut dlm mempertahan prinsip? atau mempertahankan kebodohan dgn memelacurkan diri dan kesadaran atas nama demokrasi omong kosong? Sy yakin anda sdh memilih yg kedua.

  2. Achee

    Tolak pilkada adalah bukti konsistensi tdan keprihatinan terhadap kondisi rakyat bima yg selalu d bodohi penguasa dari dulu sampai sekarang… Krna hanya melahirkan pemimpin yg mwakli kelompok trtentu saja…
    Walaupun tdak brpengaruh besar, tapi mmbuktikan kepada negara bhwa masih ada segelintir manusia yg memahami kondisi dana mbozo tanpa kepentingan praksis apapun!!

  3. ilham

    SMI juga tidak memberikan konstribusi terhadap masyarakat bima, dari pada kalian berdiri di jalan dengan hal yang tidak pasti dan lagi pula tidak di dengar, lebih baik SMI ambil posisi untuk mendukung salah satu calon ataupun mengawal dengan baik pilkada untuk pendewasaan demokrasi khususnya di kabupaten bima, demi kepentingan bersama dan membantu pemerintah kabubaten bima untuk turun ke masyarakat, sekarang bukan saatnya berteriak tampa isi tapi saatnya bertindak yang nyata buat masyarakat sekecil apapun itu, maju terus buat masyarakat bima, khususnya pemuda karena pemuda adalah asset masa depan maka pemikiran kita perlu di buka dan harus tebuka,
    1000 anggota kalian tidak berpengaruh klw gk ada isinya, kita tidak berbicara kuantitas tapi kualitas SDM nya, klw seadainya kalian benar-benar merasa masyarakat bima dibodohi dengan pilkada ini seharusnya sosialisasi dong bukan berteriak, klw itu benar buat masyarakat loh yaaa.

    • bung yang perlu kita ketahui golput itu mrupkan sikap politik yg semua org berhak utk melakukannya.
      kenapa ada golput ?
      yg pastinya org yg golput itu memiliki alasan dong.
      alasannya apa? bisa saja dari semua kandidatnya dianggap tidak berkompeten (misalnya) atau mereka menganggap para kandidat trsbt hanya mewakili kepentingan kelompok dan golongannya sendiri dan hal tsb sudah mereka analisa secara dalam dan cukup objektif.

      kalo menyinggung soal teriakan2 aksi, saya pikir bung Ilham yg komen diatas komentar saya ini yg gk ngerti aksi makanya lucu kan dia nulisnya (haha)

      #dont_vote !

  4. Golput adlh hak kostitusi. SMI memilih untk golput bukan tanpa alasan. memilih untk tdk memilih dgn dasar pemikiran yg jelas adlh slah bentuk sikap kritis dan tegas terhadap praktik demokrasi yg bobrok. Tdk perlu sok2 berbicra tentang demokrasi yg baik, Tdk perlu sok2 paham politik, dan sok2 paham dgn kondisi masyrakat bima. Lebih baik dicap jadi pengecut kna tdk memilih dripd menjadi penjilat, pembohong, munafik, dan penghianatan terhadap rakyat. SMI tdk menolak Demokrasi, partai politik maupun tokoh politik, akan tetapi menolak sgala praktik demokrasi dan partai politik yg sdh tdk relevan trhadap kemajuan, keadilan dan kesejahteraan rakyat.

  5. anak bau kencurrr sma aja belum tentu naik kelas… kuliah yg benar bicara soal negara… otak di pakai buat belajar bukan untk golput… kasihan ortu cari uang buat kamu kuliah….habis kuliah cari kerja biar bisa hidup… di suruh kuliah malah mau jadi apa di jalanan…. mahasiswa malas

    • Cara Saudara berpikir saja sdh menunjukan kebodohan saudara sendiri. Main analisa Bos, biar gk kelihatan sok ngajarin org kuliah yg baik. gk cocok main subjektif untk berdiskusi, pkelah cra berpikir yg ilmiah dan objektif.

  6. ortu kamu tau klo kamu di suruh kuliah biar bisa belajar….. jadi orang dpt gelar s1 aja ortu bangga krn kasihan harus jual sapi buat ongkos…. mas diluar bima persaingan SDM jauh lebih berharga ketimbang anda macetin jalan….. coba kuliah di jawa mas…. biar tau klo cari pekerjaan sulit…… klo hny macetin jalan…. ngamen namax klo di jawa

    • kok cara anda berfikir dangkal kyak gitu?
      okelah mas sandi yg kuliah dijawa yg tau bagaimna pahit manisnya kehidupan disana.
      tapi sebelum anda terlalu jauh ngomong ngawurnya coba lihat kondisi objektif yg ada disana, kita ambil contoh gerakan2 mahasiswa di jogja sekarang(kota pendidikan katanya). yg saya tahu masih banyak gerakan2 mahasiswa yg masih exis turun ke jalan disana karna mereka tahu bahwa perubahan tidak bisa diraih dengan hanya ikut nyoblos, berkompromi , berselingkuh dengan elit2 politik borjuasi yg berkuasa hari ini, tidak akan.
      mending banyak baca2 buku atau diskusi dulu deh mas, ben ora sok2 politis ngomonge(hehe).

  7. YUS

    dinasehatin kok malah ngawur……nih model calon pengangguran berikutnya, idealis gk berdasar…..sekarang dadamu busung, ntr kalau dah wisuda eh…..km gk ada harga dirinya krn nganggur, nganggur gk dihormatin loh ma orng lain, apalagi di bima, mo nyari kerja eh…..lapangan pekerjaan kagak ada, ujung2nya berharap jadi PNS,,,, setiap taun aja di bima ribuan sarjana yang diwisuda,,,,makanya mahasiswa kita dibima gk bisa maju alias kalah bersaing dengan mahasiswa luar, tingkat kreatifitas dan imajinasi dibawah standar

  8. mas irhas…. belajar yg benar g usah buat macetin jalan…. anda mau orasi jgn di jln itu jln umum mas….menghambat orng lain… mau nada g ikut pemilukada negara g urus mas……. belajar cari ilmu cepat lulus baru cari kerja… kasihan ortu cari uang susah…. ini mahasiswa lulus g tau kapan ntar buat tesis aja copy paste… aduhhh mas…… mas irhas dan dourahu… tau g anda tuh tinggal di negara indonesia yg wajib ada pemilukada tau g mas… pemilukada itu dari mahasiswa awalnya biar ada demokrasi makax lahir thn 1998 biar tau apa arti dari perjuangan saat itu….. ini bukan negara mas…… RT/Rw aja di pilih apalagi pemillukada…. aduhhhhh mas…. belajar mas biar tau aturan sedikit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *