Keluarga Rhoma Irama Datangi Polres dan Kampus STKIP Bima

Kota Bima, Kahaba.- Puluhan orang keluarga Rhoma Irama, Mahasiswa STKIP yang tewas dibacok, Senin (11/1) mendatangi Kantor Polres Bima Kota dan Kampus STKIP Bima. Kedatangan mereka guna menanyakan sejauh mana proses perkembangan kasus kematian pria yang biasa disapa Oman tersebut.

Keluarga Rhoma IRama saat mendatangi kantor Polres Bima Kota. Foto: Deno

Keluarga Rhoma IRama saat mendatangi kantor Polres Bima Kota. Foto: Deno

Di kantor Polres Bima Kota, keluarga korban menanyakan tentang kejelasan terkait benar dan tidaknya pelaku pembacokan itu sudah ditangkap. Selain itu, mereka menanyakan hasil pengembangan kasus tersebut, apakah ada keterlibatan pihak lain dalam insiden itu.

Kapolres Bima Kota AKBP. Ahmad Nurman Ismail, SIK yang menemui keluarga korban membenarkan tertangkapnya dua tersangka utama pembacokan tersebut. Ditegaskannya juga, kasus tersebut akan dilakukan pengembangan dan penyelidikan lebih lanjut, guna memastikan terlibatnya pihak lain selain dua tersangka yang sudah diamankan.

“Kami berharap keluarga korban bersabar dan tidak melakukan tindakan di luar aturan hukum Biarkan polisi yang menyelesaikan kasus ini,” katanya.

Setelah pertemuan dengan Kepolisian, menggunakan tiga mobil keluarga korban menuju Kampus STKIP Bima. Kedatangan mereka guna bersilaturahmi dengan pihak Lembaga. Tiba di kampus setempat, keluarga korban tidak dapat menemui satupun pihak Lembaga.

Suhendi, Keluarga Rhoma Irama. Foto: Deno

Suhendi, Keluarga Rhoma Irama. Foto: Deno

Keluarga korban, Suhendi mengatakan, tujuan mereka mendatangi Kampus STKIP hanya ingin silaturahmi. Mereka tidak ingin hubungan silaturahmi dengan Kampus terputus. “Kami menganggap orang-orang yang berada di Lembaga Kampus ini orang tuanya oman juga, keluarga kami,” ujarnya.

Selain silaturahmi, pihaknya juga ingin memastikan apa yang sudah dijanjikan Lembaga  STKIP untuk keluarga Oman tidak diingkari, karena pasca insiden pembacokan, Lembaga berjanji kepada keluarga korban, selama pelaku belum di tangkap, maka selama itu tidak ada aktifitas kuliah. “Makanya kami juga ingin menanyakan soal janji tersebut,” ucapnya.

Untuk persoalan keterlibatan pihak ataupun oknum dari Lembaga Kampus, sambung Suhendi, pihaknya menyerahkan sepenuhnya ke pihak Kepolisian. Karena polisi yang memiliki wewenang untuk mengungkap semua di balik kejadian itu.

*Deno

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. lusi

    hebat benar ini orang, kalau pelakunya setahun gak ditangkap setahun gak kuliah… ini ma pemikiran preman. ohbya semoga mereka juga mau memintakan ma,af kepada dosen n mahasiswabyangnpernah dipukul dan dipanah maupun diejek dan diancam oleh korbam semasa hidupnya. semua pada bisik bisik bagaimana sok jagonya korban.

  2. Ikmal respati

    Ntau ja one la mone ede doho…. ma ngau ti si raka pelaku ti kau hengga kampus, ede se samba’a na kampus re, 3 wura na tua dei mahasiswa….
    Seharusnya mereka tdk boleh seperti itu , malah kalau punya niat baik malah kampus harus tetap dibuka,
    Ede kanta kai ka ngau weki… taho pu ka na’e mu ta’i.., kana’e mu ta’i na sapa mpa ba dou…

  3. ardy

    Sudahlah biar smua ini polisi yang ngurus dan hukum yang tentukan.buat suasana aman sehingga tidak ada lagi pihak korban maupun tersangka yang terprofokasi.biar smua kegiatan kampus dan mahasiswa bisa melanjutkan perkulihan.jadikan ini pelajaran dan pihak kampus memperketat keamanan dan jg smua eleman mahasiswa harus berpartisipasi spaya tidak terjadi kasus sperti ini.kita penerus bangsa penerus dana mbojo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *