Pasar Amahami Harus Segera Diserah Terima

Kota Bima, Kahaba.- Menurut Anggota DPRD Kota Bima, M Irfan, Pasar Semi Moderen Amahami harus segera diserah terima oleh Kementerian Perdagangan ke Pemerintah Kota Bima. Dengan begitu, baru bisa ditata dan dikelola dengan baik sehingga tidak semakin semrawut dan kumuh. (Baca. Pasar Amahami Makin Semrawut, Janji Pemkot Mana ?)

Anggota DPRD Kota Bima M Irfan. Foto: Ady

Anggota DPRD Kota Bima M Irfan. Foto: Ady

“Pasar Amahami sampai saat ini belum dilakukan serah terima. Karena itu kami menyarankan, pemerintah melalui SKPD terkait segera lakukan upaya maksimal berkoordinasi dengan Kementerian,” saran Irfan.

Menurut Duta PKB ini, bila belum ada penyerahan pengelolaan maka sangat sulit bagi Pemerintah Kota Bima untuk menata Pasar Amahami dengan maksimal. Dalam penataan nantinya, tentu pemerintah juga harus membuatkan regulasi sebagai rambu-rambu bagi para pedagang.

“Kalau belum ada serah terima, wajar saja pemerintah membiarkan hal itu karena regulasi yang mengatur belum ada,” kata dia.

Pada prinsipnya lanjut Irfan, dirinya merespon positif berbagai upaya pembangunan yang digagas Pemerintah Kota Bima. Termasuk di pembangunan Pasar Amahami. Hanya saja, upaya tersebut tidak akan berjalan dengan baik bila masyarakat tidak mendukungnya.

“Harus ada feedback, ketika pemerintah sudah menyodorkan sesuatu maka masyarakat juga harus merespon. Misalkan para pedagang, ketika sudah ada aturan yang dibuat harus mau mematuhi,” ujarnya.

Namun faktanya sambung Irfan, persoalan sampah saja belum ada kesadaran kolektif dari para pedagang. Masih banyak yang membuang sembarang, bahkan di sekitar tempat duduk jualannya.

“Kesadaran inilah yang diutamakan dibangun lebih dulu. Jangan sampai ketika sudah ada aturan, masyarakat sendiri tidak mau mematuhi,” tandasnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *