Kebijakan Diskriminatif, Bisa Picu Tindakan Radikal

Kota Bima, Kahaba.- Akademisi STKIP Bima, Alfin Syahri menilai, gagasan dan tindakan radikal tidak hanya dipicu pemahaman keagamaan yang keliru, tetapi bisa disebabkan karena kebijakan pemerintah yang diskriminatif.

Akademisi STKIP Bima, Alfin Syahri. Foto: Ady

Akademisi STKIP Bima, Alfin Syahri. Foto: Ady

Karena itu menurut dia, sepanjang pemerintah menciptakan kebijakan diskriminatif, maka sepanjang itu pula pemerintah tidak bisa membatasi tumbuh suburnya gagasan radikal. Selain itu, bisa juga karena otoritas pemerintah yang tidak mampu menciptakan distribusi pembangunan, pemerataan basis sosial, ekonomi dan politik.

“Ini bisa menjadi dasar dan pemicu tumbuh suburnya gagasan dan tindakan radikalisme,” kata Alfin saat menjadi narasumber dalam Diskusi Keagamaan yang digelar Pusat Studi Kajian Agama dan Budaya (PUSKAB) NTB, Selasa (26/1) pagi di Aula SMK Negeri 3 Kota Bima.

Tak hanya itu lanjutnya, tindakan radikal bisa tumbuh bukan karena gagasan lokal, tetapi justru karena gagasan global. Seperti krisis di Negara Timur Tengah, itu bisa menjadi legitimasi bagi kelompok radikal untuk mengambil pilihan sama sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan yang terjadi.

Radikalisme sangat berbahaya pada struktur sosial, dan struktur sosiologis masyarakat Indonesia yang multikultur, multi agama, multi kebudayaan dan multi banyak aspek. Maka kalau kekerasan ini muncul bisa mengancam toleransi dan menciptakan the next phobia bagi masyarakat Indonesia.

“Ini perlu kemudian menjadi perhatian besar kita, bahwa ukhwah yang cocok dikembangkan untuk menangkal radikalisme, tanpa mengesampingkan ukhwah Islamiyah atau ukhwah wathoniyah dalam kerangka yang lebih besar tentu saja adalah ukhwah basyariah,” urainya.

Lembaga negara punya peran untuk mengembangkan budaya dan menularkan semangat bahwa manusia diciptakan sebagai satu entitas. Karena banyak sekali ditemukan fakta bahwa pelaku kekerasan, baik itu teroris dan penganut paham radikal bisa terjadi karena pemahaman terhadap agama yang terlalu tertutup dan latah.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Sepertinya sandipanji harus belajar untuk lebih menghargai orang lain. Nah, saya analogikan komentar anda kepada akademisi. Orangtua sampean tidak pernah mengajarkan anaknya untuk bermulut besar, menjadi penjahat, perampok, penjilat, pembunuh, pelacur dll, tp perbuatan itu muncul krn sikap individu seorang, seperti pelaku pembunuhan yg anda maksud. Apakah orang tua pelaku A dan J menyuruh anaknya membunuh Rhoma? Tidak!! Kembali soal teori dipaparkan akademisi, itu rasional, hny pola pikirmu yg dangkal yg tidak terjemahkan hikmah dalam paparan narasumber. Di kampus dosen ajarkan tentang bidang ilmu yg mereka miliki, dan mereka selalu mengajarkan kebaikan. Pihak pengelola kampus juga tidak inginkan hal itu terjadi. Anda sepertinya kembali belajar, dan hargai orng lain apalagi seorang guru. Oh iya, sepertinya ada kekeliruan di judul berita…hehhe*

    • mas ryan gibran yang baik hati…….. kita belajar dulu di lingkup yg kecil baru ke lingkup yg besar……. kita mulai dari penahi dulu lingkup pendidikan di sekitar kita baru kita memberikan contoh ke lingkup yg umum….. maksudx begitu mas ryan gibran

    • terus yg menjadi perumpamaan itu siapa yg seharusnya di bertanggung jawab???? apakah mahasiswa??? dosen selaku pengajar??? atau yayasan selaku pengelolah????? ini yg harus di benahi dulu……..?????? klo teori shhhh semua orang bisa baca mas….. yang sulit itu aplikasinya…….. nah itu seharunya jadi PR buat akademi kita di bima….. baru memberikan teori ke masyarakat… begitu mas ryan maksudx

  2. feby

    seharusnya mas sandy tidak mengaitkan masalah yg satu dengan msalah yg lain….
    tidak ada prg yg menginginkan hal yg anda sebutkan itu terjadi…
    anda tidak boleh hanya menyalahkan satu pihak saja…
    emang yg suruh org itu bacok temannya itu pihak kampus?? :/

  3. Suhardin

    Bila saudara mengkritisi kebijakan pemerintah, jangan hanya bisa mengkritisi kebijakan pemerintah namun berikan solusinya. Terkait radikalisme yg tumbuh subur bak jamur yang tumbuh di musim penghujan, saudara sebagai bagian dari putra daerah ini seharusnya bisa memberikan edukasi pemahaman tentang radikalisme pada kampus yg anda pimpin, bagaimana untuk tindakan preventif dan mencarikan solusinya bukan hanya menjadi pemateri yg tidak berdasar. Yg dimaksud oleh anda radikalisme tumbuh subur itu apa maksudnya dan kaum radikalisme dimana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *