Bima dan Usaha Merefleksikan ‘Maja Labo Dahu’

Oleh Didid Haryadi

Didid Haryadi

Didid Haryadi

Kemeriahan pemilihan kepala daerah telah usai dan kini menyisakan banyak cerita dibalik pesta demokrasi yang melibatkan partisipasi rakyat tersebut. Partai politik bersama rakyat, kini merayakan kemenangan dan keberhasilan mereka dalam mewujudkan mimpinya menempatkan kader terbaik dibeberapa daerah.

Bima misalnya, sebagai salah satu wilayah kecil yang berada di ujung timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) selalu memiliki keunikan, terutama jika dilihat dari sisi historis pembentukan wilayahnya. Sebagai daerah yang memilki kekayaan sumber daya alam (SDA) di bidang kelautan, pertanian, perkebunan, dan pariwisata (budaya), dalam beberapa tahun kedepan Bima memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi daerah yang maju di Indonesia. Tentunya hal ini dapat terwujud jika ada niat yang baik, usaha dan juga partisipasi yang aktif dari pemerintah lokal beserta dukungan dari masyarakat sipil secara bersama-sama.

Ada yang menarik ketika momen syukuran yang terjadi di kediaman Bupati Bima pada Kamis (18/2). Terutama saat Wakil Bupati terpilih yang baru saja dilantik, Dahlan M. Noer berujar, “Kita harus bangun budaya malu. malu datang terlambat saat bekerja, juga malu pulang cepat. Tidak hanya itu, kita juga harus malu tidak belajar sepanjang hayat, dan malu untuk berbuat yang tidak baik,”.

Pernyataan tersebut merupakan hal yang sangat istimewa, karena dari sana dapat diketahui bahwa akan ada upaya untuk melakukan perubahan menuju ke arah yang lebih baik, terutama pada pembentukan karakter dan (menumbuhkan) kembali identitas orang Bima.

Sejarah Bima telah menegaskan sebuah petuah yang sampai hari ini masih menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari dan terlebih bagi beberapa orang yang melakukan perjalanan untuk merantau baik untuk belajar maupun bekerja. Petuah yang terkenal itu adalah “Maja Labo Dahu”.

Menegaskan Kearifan Lokal

Perkembangan ilmu pengetahuan memberikan dampak yang begitu nyata dalam kehidupan masyarakat. Dalam skala kehidupan yang sangat modern, arus globalisasi dan modernisasi selalu mewarnai dinamika sosialnya. Salah satu terminologi yang cukup dekat perihal penegasan identitas dengan nilai-nilai daerah yaitu ‘kearifan lokal’ (local wisdom).

Adapun istilah lain dalam Antropologi yang memiliki arti yang hampir sama adalah local genius. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Quaritch Wales. Banyak sekali definisi mengenai istilah diatas, namun salah satu yang sangat menarik dan relevan dengan petuah ‘Maja Labo Dahu’ adalah seperti yang dikemukakan oleh Keraf (2002). Kearifan lokal, semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam keomunitas ekologis.

Pengertian di atas memberikan perspektif bahwa manusia sebagai makhluk integral dan merupakan satu kesatuan dari alam semesta serta perilaku penuh tanggung jawab, penuh sikap hormat dan peduli terhadap kelangsungan semua kehidupan di alam semesta serta mengubah cara pandang antroposentrisme ke cara pandang biosentrisme dan ekosentrisme.

Budaya ‘Maja Labo Dahu’ adalah nilai-nilai sosial yang harus terus dijaga, dipraktikan, dan dilestarikan dalam kehidupan sosial. ‘Maja Labo Dahu’ (Malu dan Takut) memiliki energi dan spirit yang sangat besar dalam membentuk karakter ‘Dou Mbojo’ (orang Bima).

Secara sederhana, petuah ini mengisyaratkan pesan untuk bersikap Malu kepada manusia (karena selalu melakukan pekerjaan tercela) dan takut kepada Tuhan. Petuah bijak ini memperlihatkan eksistensi etnis Mbojo yang selalu memandang kediriannya dalam dua aspek yaitu horizontal sesama umat manusia dan vertikal, bahwa semua tindakan memiliki sinergitas dengan pengabdian kepada sang pemilik semesta.

Sebagai masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai agama Islam, sudah seharusnya petuah ini menjadi hal utama dan menjadi pijakan untuk mengambil keputusan, utamanya bagi orang-orang yang diberikan amanah sebagai pemimpin, dalam konteks ini adalah para elit daerah.

Maja Labo Dahu juga mengandung pesan etos kerja yang tinggi, yang mana mereka akan sangat malu jika tugas dan pekerjaan yang dilakukan tidak sukses dan juga takut kepada Tuhan jika cara dan metode dalam mencapai kesuksesan melanggar nilai-nilai keislaman.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kearifan lokal adalah kebijaksanaan atau pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Dan ia terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat yang mencakup kondisi geografis. Sebagai produk sejarah yang lahir dari nilai-nilai orijinalitas sosial, ‘Maja Labo Dahu’ patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup, karena meski bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.

Disamping itu juga, ia adalah sumber energi potensial dari sebuah sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup bersama secara dinamis dan damai. Dalam konteks ini, ‘Maja Labo Dahu’ tidak sekedar sebagai acuan tingkah-laku seseorang, tetapi lebih jauh yaitu mampu mendinamisasi kehidupan masyarakat yang penuh keadaban. Dan juga merupakan entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya.

Saatnya untuk terus menjaga nilai-nilai lokal sebagai spirit dan energi yang akan terus menyala dalam menjaga identitas, solidaritas, dan keharmonisan dalam kehidupan sosial. Seorang tokoh besar, Ibnu Khaldun berujar “Habits are qualities of the soul” yang berarti kualitas jiwa sangat ditentukan oleh habit (kebiasaan sehari-hari). Dan ‘Maja Labo Dahu’ sangat relevan dengan hal tersebut.

*Penulis Mahasiswa Program Master Sosiologi di Istanbul University, Tinggal di Istanbul

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *