Menuju Kampung Ini, Harus Sebrangi Sungai Sedalam Satu Meter

Kabupaten Bima, Kahaba.- Infrastruktur jalan dan jembatan yang baik menjadi impian setiap desa. Tanpa ada dukungan jalan dan jembatan, aktivitas masyarakat untuk percepatan ekonomi akan terhambat. Sayangnya, kondisi itu hampir tidak ditemukan disebagian besar desa di Kecamatan Tambora.

Sungai yang harus disebrangi Dusun Sori Bura Desa Oi Bura Tambora. Foto: Ady

Sungai yang harus disebrangi Dusun Sori Bura Desa Oi Bura Tambora. Foto: Ady

Salah satunya di Dusun Sori Bura Desa Oi Bura. Di kampung ini, masyarakat seperti hidup terisolir. Akses jalan menjadi satu dengan daerah aliran sungai. Selain berlubang, jalan juga penuh kerikil, terjal dan berlumpur ketika musim hujan.

“Bahkan untuk menyebrangi kampung, kita tidak punya jembatan. Terpaksa harus lewat sungai yang kedalamannya sekitar satu meter. Itu karena tidak ada alternatif lain,” kata Kepala Dusun Sori Bura, Muslim kepada kahaba.net.

Kondisi jalan seperti itu sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu ketika kampung setempat ada. Hingga kini, belum ada perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki dan membuatkan jembatan.

“Sekarang keadaan jalan sudah lumayan karena gotong royong masyarakat untuk melakukan pengerasan. Dulu sama sekali sulit dilewati, walaupun itu dengan sepeda motor,” tutur Muslim.

Ketika sungai banjir, otomatis akses jalan masyarakat terputus dan tidak bisa menyebrang ke dusun dan desa lain. Masyarakat harus menunggu air sungai surut agar bisa menyebrang.

Kerap kali kondisi tersebut merugikan masyarakat. Karena sejumlah sepeda motor rusak akibat terjun ke sungai saat menyebrang. Belum lagi, sejumlah aktivitas terhambat lantaran tidak bisa ke pusat pemerintah desa dan kecamatan.

“Kita tidak punya pilihan lain. Mau mengeluh pada siapa. Inilah kehidupan kita selama ini,” ujarnya.

Muslim juga bercerita, ketika Ia pergi bekerja ke pusat pemerintah desa setiap hari harus menggunakan celana pendek. Pakaian dinas Ia masukan dalam tas. Sebab kalau tidak begitu akan kotor semua dalam perjalanan akibat lumpur.

“Nanti kalau sudah sampai kantor, pakaian dinas baru kita pakai. Begitu setiap hari,” akunya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *