Diskusi Publik HMI, Bahas Penanganan Radikalisme

Kota Bima, Kahaba.- Daerah Bima kembali menuai sorotan publik nasional terkait persoalan radikalisme dan terorisme. Terutama pasca tewasnya FJ yang ditembak mati Densus 88 di Kelurahan Penatoi belum lama ini. Hal ini tak bisa dipungkiri kian mempertegas daerah Bima sebagai zona merah rawan konflik dan paham radikalisme.

Diskusi Publik yang digelar HMI. Foto: Ady

Diskusi Publik yang digelar HMI. Foto: Ady

Namun benarkah paham berbahaya ini masih menjadi persoalan serius di Bima dan sejauh mana penanganannya telah dilakukan dengan baik, Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bima membahasnya dalam kegiatan Diskusi Publik.

Tema kegiatan yakni peran Tokoh agama dalam menangkal paham radikal dan terorisme di Bima. Dilaksanakan di Aula FKUB Kota Bima, Selasa (23/2) kemarin. Mengundang peserta dari berbagai perwakilan komponen masyarakat. Sedangkan narasumber menghadirkan perwakilan Kepolisian, Majelis Ulama Indonesia, Kementerian Agama dan Akademisi.

Ketua Panitia Kegiatan, Dipati menjelaskan, tujuan diskusi publik digelar diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin. Sebagai benteng untuk mencegah dan menyaring penyebaran paham radikal.

“Kami juga mendorong nantinya pihak terkait seperti BNPT, Kepolisian, Kebangpolinmas, dan Pemerintah Daerah bisa bekerja secara profesional dalam penanganan terorisme,” terangnya melalui pernyataan pers.

Dipati optimis, gerakan radikalisme dapat dicegah dengan pola penanganan yang baik, terarah dan mengena. Seperti dengan membangun keteladanan akhlak di dalam kehidupan bermasyarakat, sosial, pemerintahan, birokrasi dan berbagai aspek.

“Terpenting, kita berharap diskusi publik ini mampu mengeliminir stigma buruk daerah Bima sebagai zona merah melalui tawaran solusi dan upaya dari narasumber,” tambahnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *