Tiga Bersaudara Idap Polio ini Tinggal di Gubuk Nyaris Roboh

Kabupaten Bima, Kahaba.- Senyum lugu melingkar dibibir tiga bersaudara, Faisal (18), Junaidin (16), dan Wahyudin (14). Warga Dusun Sarita RT 01 RW 01 Desa Punti Kecamatan Soromandi itu terlihat sangat bahagia menyambut kedatangan tamu yang berkunjung ke gubuk reotnya.

Nurmala bersama tiga orang adiknya yang idap penyakit Polio. Foto: Deno

Nurmala bersama tiga orang adiknya yang idap penyakit Polio. Foto: Deno

Seolah, ketiga saudara yang mengidap penyakit Polio sejak lahir itu merasa, ada secercah harapan yang dititipkan Tuhan, dari orang – orang yang menghampirinya. Tentu harapan itu, kesembuhan.  Karena, tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Tiga bersaudara itu telah lama ditinggal pergi bapaknya. Ibu dan saudara perempuannya Nurmala (25) menjadi tulang punggung yang merawat mereka dengan tulus. Secara bergantian, Faisal Junaidin, dan Wahyudin sejak bayi dibesarkan dengan lembut dan penuh kasih sayang, hingga kini mereka remaja.

“Kami merawatnya setiap hari. Mulai memandikan, memberi makan dan menjaganya agar tetap baik – baik saja. Alhamdulillah kami terus memberi perhatian kepada adik – adik kami,” ujar Nurmala.

Tiga remaja itu tinggal di rumah panggung ukuran 3×5 Meter, gubuk reot yang nyaris roboh. Rumah enam tiang itu hanya berdinding Bedek yang sudah banyak berlubang. Di dalam rumah pun dibuat los, tak ada kamar. Dapur dan kamar menyatu.

Kondisi rumah tiga remaja idap penyakit polio. Foto: Deno

Kondisi rumah tiga remaja idap penyakit polio. Foto: Deno

Yang lebih memperihatinkan, tempat tidur mereka hanya beralaskan tikar. Tidak ada kasur atau sejenisnya yang empuk untuk menahan raga saat terlelap. Hidup benar – benar miskin.

Nurmala mengaku tidak tahu pasti penyebab adik – adiknya mengidap penyakit Polio. Orang tua mereka, pun hanya pasrah menerima takdir. Anak – anak yang menjadi amanah, pun harus dijaga dan dirawat sebaik mungkin.

Saat menerima kedatangan Kapolres Bima dan Komandan Korps Brimob didampingi Tim Reaksi Cepat Komnas Anak, Sabtu (28/2) yang menjalani program sosial, Nurmala tidak banyak berbicara. Ia hanya menaruh harapan kepada Pemerintah Daerah untuk memperhatikan kondisi kehidupan mereka, terlebih untuk kesembuhan tiga adik – adiknya.

“Besar harapan kami Pemerintah membantu,” harap perempuan janda yang sehari – hari mengabdi sebagai guru sukarela di Ponpes di Kecamatan Soromandi itu.

Kapolres Bima saat kunjungi tiga remaja idap Polio. Foto: Deno

Kapolres Bima saat kunjungi tiga remaja idap Polio. Foto: Deno

Di tempat yang sama, Sekretaris Camat Soromandi mengaku, tiga bersaudara itu memang sudah lama hidup dalam himpitan ekonomi. Ibu Nurmala, sehari – hari hanya bekerja sebagai buruh tani dan penjual bakulan.

“Bapak Nurmala kawin lagi dengan perempuan lain, dan tidak pernah memperhatikan anak-anaknya yang ditinggal sampai sekarang,” ungkapnya.

Takdir yang diterima Nurmala dan adik – adiknya tetap dijalani dengan senyum dan ikhlas. Kendati, tetap terbesit harap ada perubahan yang lebih baik untuk kehidupan adik – adiknya. Agar bisa menikmati indahnya kehidupan, seperti keindahan yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia lainnya.

*Deno

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. Rangga Babuju

    Tahun 2012 yg lalu, ketiga bersaudara ini sdh pernah kami kunjungi…. BABUJU & FOKKA Jakarta jg sdh memberikan bantuan Kursi Roda. Pada saat itu Kadis Sosial pak Wahab sdh menjanjikan biaya hidup seumur hidup dari dana Propinsi yg diterima per 3 bulan.
    Hingga 2013 kami tetap memantau dan bantuan biaya hidup tetap cair hanya saja kadang 3 bulan sekali dan prnh diterima 6 bulan sekali….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *