Dandim Bima: LGBT Termasuk Proxy War

Kota Bima, Kahaba.- Sebuah proxy war atau perang proksi merupakan perang yang terjadi ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi untuk menyerang lawan secara langsung.

Dandim 1608 Bima, Letkol Arh. Edi Nugroho. Foto: Ady

Dandim 1608 Bima, Letkol Arh. Edi Nugroho. Foto: Ady

Saat ini menurut Dandim 1608 Bima, Letkol Arh. Edi Nugroho, proxy war itu telah terjadi di Indonesia. Negara barat menginvasi negara kita tidak lagi secara fisik. Atau dengan kata lain melalui perang terbuka.

“Tetapi kita telah diserang melalui budaya maupun fashion. Salah satunya lewat masuknya LGBT,” kata Dandim saat menjadi narasumber diskusi tentang bahaya LGBT yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Bima di Aula Yasim Bima, Minggu pagi.

Perang melalui pihak ketiga jelasnya, lebih mudah menghancurkan dibandingkan perang mengangkat senjata. Karena dilakukan dengan pelemahan secara perlahan tapi pasti. Disisi lain lanjutnya, undang-undang yang melarang tegas eksistensi LGBT belum ada di Indonesia. Penyebabnya, karena kebijakan negara masih banyak dipengaruhi negara luar.

“Untuk itu, membendung bahaya LGBT harus ada proteksi bersama masyarakat serta perlindungan di lingkungan keluarga. Anak-anak kita ingatkan lebih selektif memilih teman,” ingatnya.

Selain rutin mengingatkan bahaga narkoba, pihaknya berencana akan menambah program sosialisasi khusus di lingkup TNI Bima tentang LGBT dalam waktu dekat ini. Karena LGBT dianggap menjadi tren yang membahayakan bangsa dan negara.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *