Alamtara Institute Seminarkan Hasil Riset Etnografi Budaya

Kota Bima, Kahaba.- Nilai Islam dan budaya lokal Bima dalam tinjauan historis dan praktek kehidupan masyarakat selalu menarik untuk dikaji dan digali. Hal itulah yang mendorong dua peneliti budaya untuk mengungkap sisi lain kearifan lokal masyarakat Bima melalui risetnya dengan pendekatan etnografi.

Seminar Hasil Riset Etnografi Budaya. Foto: Ady

Seminar Hasil Riset Etnografi Budaya. Foto: Ady

Kedua peneliti itu yakni Atun Wardatun, peraih gelar PHD Australia dan Abdul Wahid, peraih gelar Doktor bidang sosial budaya. Mereka berdua ini merupakan pasangan suami-istri dan juga penulis produktif dibidangnya.

Hasil riset Atun dan Wahid (Dua AW) tentang budaya Bima ini diseminarkan di Falcao Cafe, Kamis (24/3) pagi. Atun mengungkap hasil risetnya berkaitan dengan Agensi Perempuan Bima : Studi Kasus Ampa Co’i Ndai.

Sementara Wahid mengungkap hasil risetnya berkaitan dengan ‘Politik Ragam Budaya : Studi Kasus Desa Mbawa’. Riset pasangan tiga anak ini juga menjadi karya ilmiah untuk disertasinya menyelesaikan studi S3.

Seminar ini digelar Alamtara Institute bekerjasama dengan Alison Sudrajat Award. Dihadiri sejumlah pegiat sosial, budaya, penulis, pemerhati budaya, akademisi, KNPI, mahasiswa dan berbagai kalangan masyarakat.

Meski seminar berlangsung singkat hingga siang hari, pemaparan keduanya mengangkat nilai luhur masyarakat Bima melalui riset memancing para audiens untuk menggali lebih dalam pada sesi diskusi.

Terutama, terkait pengalaman Atun saat meneliti tentang tradisi ‘Ampa Co’i Ndai’ di beberapa desa di Kabupaten Bima. Maupun pengakuan masyarakat yang menjadi informan penelitian cukup mencengangkan di Desa Renda. Misalnya soal ungkapan masyarakat ‘loa si weli bora, loa jampa weli mone’ .

Dalam hasil penelitiannya, Atun juga lebih banyak mengeksplorasi bagaimana kapasitas perempuan di Bima sejak dulu hingga sekarang. Yang menurutnya, begitu dihargai dan memiliki kapasitas (agensi) sebagai perempuan tangguh dan berilmu. Nilai lokal budaya Bima itu ternyata sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Sementara hasil riset Wahid, mengangkat historis, praktek dan pengalaman budaya masyarakat Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Di desa ini hidup masyarakat dengan multikultur, beragam etnis dan agama. Tetapi justru sangat harmonis, hidup berdampingan dan menjaga toleransi.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *