H. Man Kosambo: Kota Bima Harus Berlari

Kota Bima, Kahaba.- Pembina Komunitas Salaja Mbojo (Kosambo) H. Sutarman H. Masrun berpandangan, grafik perkembangan Kota Bima masih berjalan di tempat. Disegala aspek masih butuh sentuhan – sentuhan yang mampu merangsang perkembangan dan bisa bersaing dengan daerah lain.

H. Sutarman saat berbicara di depan warga Kodo. Foto: Bin

H. Sutarman saat berbicara di depan warga Kodo. Foto: Bin

Pernyataan itu disampaikan H. Sutarman karena melihat gerak langkah perkembangan Kota Bima, tidak signifikan. Ia ingin, segala sektor bisa didorong perkembangannya dengan serius, sehingga pada tahun 2050, Kota Bima menuju Kota EMAS.

“Ada tiga gerak perkembangan suatu daerah. Pertama gerak jalan di tempat, gerak berjalan dan ketiga yakni gerak berlari. Saya ingin Kota Bima ini berlari, tidak berjalan ditempat seperti ini,” ujarnya saat bersilahturahim dengan warga Kelurahan Kodo, Sabtu (26/3).

Kenapa lantas dirinya ngotot untuk ikut Bakal Calon (Balon) Walikota Bima, karena berdasarkan pengamatannya bersama Kosambo sejak 2012 lalu, sampai Tahun 2016 Kota Bima masih jalan di tempat. Jika dibandingkan sejumlah daerah lain yang kian tahun menunjukan grafik perkembangan yang luar biasa.

Untuk itu, kehadirannya di Kota Bima, selama 30 tahun merantau, ingin mewakafkan diri dan kemampuan untuk perkembangan daerah dan tanah kelahiran. Sehingga, jika dibandingkan dengan daerah lain, Kota Bima bisa menunjukan diri dengan perkembangan pembangunan dan kesejahteraan masyarakatnya.

Pada kesempatan itu, H. Sutarman juga memperkenalkan dirinya kembali kepada masyarakat Kodo. Ia berterus terang, keinginannya sangat kuat untuk menjadi Walikota Bima untuk periode mendatang. Memberikan bakti dan pengalaman selama diluar daerah, untuk perkembangan Kota Bima yang jauh lebih berarti.

“Pembicaraan – pembicaraan seperti ini juga sudah saya sampaikan di 22 Kelurahan yang saya datangi. Tinggal 16 Kelurahan, untuk menyampaikan sesungguhnya keinginan dan mimpi – mimpi saya untuk perkembangan daerah,” katanya.

Diakui penguasaha batubara di Kalimantan dan Sumatera itu, akan banyak yang ingin dilakukannya nanti jika diizinkan oleh Allah SWT untuk menjadi pemimpin di Kota Bima. Mimpi – mimpi itu hadir dan berkecamuk dalam benaknya, sejak mendirikan Kosambo. Hanya saja, ruang kebijakan di Kosambo yang terbilang kecil, maka ia memberanikan diri untuk langsung terjun ke dunia politik.

H. Sutarman. Foto: Bin

H. Sutarman. Foto: Bin

“Mimpi – mimpi saya selama ini akan bisa diwujudkan jika saya menjadi Walikota Bima. Karena pimpinan daerah memiliki kebijakan politik dan strategis untuk sesuatu yang lebih besar bagi daerah dan rakyat. Maka dari itu, saya Bismillah memulai melakukan silahturahmi dan memperkenalkan diri ke masyarakat,” tuturnya.

Kepada masyarakat Dodu, pria yang memiliki dua orang anak ini meminta untuk tidak pasif berpolitik, tidak takut untuk berpolitik. Karena politik memiliki tujuan yang mulai, untuk masa depan yang lebih baik.

Bicara politik juga, menurutnya bicara masa depan, bicara keikutsertaan dan bicara kontribusi. Jika masyarakat tidak aktif berpolitik, maka jangan mengaharapkan sesuatu perubahan yang lebih besar.

“Dinamika hidup yang kita rasakan sekarang merupakan buah dari kebijakan politik,” tuturnya.

Kehadirannya juga bersilahturahim dengan warga di 38 Kelurahan, ingin memberikan pendidikan politik juga memberi pencerahan kepada masyarakat. Lebih awal mempromosikan diri dihadapan masyarakat, agar masyarakat memiliki waktu yang lebih banyak untuk menilai dan memperhatikan eksistensi dan kemampuannya.

Banyak yang menertawakannya, kenapa terlalu cepat mensosialisasikan diri. Bahkan ada yang menyarankan, jika memang punya banyak uang, datang saja hari – hari dekat Pilkada, dan kemanangan akan diraih. Namun, dirinya tidak ingin seinstan itu.

“Saya ingin berproses dan memberikan ruang untuk masyarakat menilai. Apakah memang saya layak memimpin Kota Bima. Jika saja nanti hasilnya menang atau kalah, itu wilayah Allah SWT yang akan mengurus,” ucapnya.

Namun H. Sutarman berkeyakinan, jiak prasangka Allah SWT tergantung sungguh dari prasangka manusia. “Itu yang selalu saya pegang. Semua bisa mungkin, maka saya benar – benar menikmati silahturahim dan kebersamaan dengan rakyat ini,” tambahnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *