Tausiyah PMII, Hasilkan 3 Komitmen Bersama

Kota Bima, Kahaba.- Agenda dzikir dan tausiyah organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bima, Senin (28/3) siang menghasilkan 3 poin komitmen bersama. Poin itu menjadi kesimpulan diskusi tentang tema ‘Islam Jalan Terang dan Damai ; Mengukuhkan Islam Rahmatan Lil Alamin’.

Dzikir dan tausiyah yang digelar PMII Cabang Bima. Foto: Ady

Dzikir dan tausiyah yang digelar PMII Cabang Bima. Foto: Ady

Isi 3 poin tersebut yakni, berkomitmen menolak segala bentuk kekerasan baik komunal maupun kekerasan atas nama agama. Berkomitmen untuk mewujudkan suasana Bima yang kondusif, aman, damai, ramah dan berteman. Berkomitmen mewujudkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin.

“Tiga poin ini telah menjadi komitmen bersama peserta dan forum yang hadir. Serta telah kami deklarasikan usai kegiatan,” jelas Ketua PMII Bima, Awalul Rahman.

Kegiatan digelar di Masjid Al Anshar Kelurahan Panatoi, melibatkan peserta dari unsur masyarakat Penatoi, tokoh agama, organisasi kemahasiswaan, organisasi wanita, majelis taklim dan para pelajar SMA.

Sedangkan penceramah, diisi Ustadz Musthofa Umar dan Ustadz M. Muttawali. Selain itu, juga menghadirkan unsur Kepolisian Resort Bima Kota yang diwakili Kasat Binmas, IPTU M Yamin.

Dalam penyampaiannya, Ustad M. Mutawwali mengatakan bahwa Rasulullah Muhammad SAW hadir membawa Islam rahmatan lil alamin dan membawa misi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Tidak hanya untuk umat Islam, tetapi rahmat untuk sekalian manusia.

Toleransi kehidupan terangnya, telah diajarkan Rasulullah sejak dulu ketika hijrah dari Makkah ke Madinnah. Rasulullah hidup rukun dan menghormati semua umat manusia.

Namun menurut Anggota MUI Kota Bima ini, keramahan wajah Islam yang diajarkan Rasulullah telah dirusak sebagian kelompok umat Islam saat ini. Mereka dinilai telah mengamalkan Islam dengan jalan kekerasan karena keliru memaknai isi kandungan Al Qur’an.

Sementara itu, Ustad Musthofa Umar menegaskan, keberadaan Islam di Indonesia kerap kali dipertentangkan dengan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika oleh sebagian kecil kelompok umat Islam. Alasannya, dasar dan aturan negara itu dianggap tidak selaras dengan Islam.

Padahal menurutnya, tak satu pun dari nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika bertolak belakang dengan Islam. Karena rumusan nilai-nilainya terkandung dalam Al-Qur’an dan ajaran Islam. Apalagi, para perumus Pancasila merupakan perwakilan Tokoh Islam kecuali satu orang beragama lain. Sehingga keberadaanya mengayomi warga negara Indonesia.

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *