BTS Selular di Kendo Dibongkar Paksa Warga

Kota Bima, Kahaba.- Berlarut-larutnya kasus pendirian menara BTS salah satu operator seluler di kawasan yang diduga sebagai lahan pekuburan umum membuat warga Kelurahan Kendo bertindak. Jum’at (13/7) pagi, ratusan warga membongkar paksa material pembangunan BTS itu dan memindahkannya ke hingga menutup jalan kelurahan.

Material tower BTS digunakan menutup ruas jalan Kelurahan Kendo / Foto: Kahaba.info

Warga Kendo yang awalnya melakukan kegiatan gotong royong pembersihan Tempat pemakaman Umum (TPU), sekitar pukul 7.00 wita beranjak menuju ke lokasi pembangunan tower BTS yang terletak tidak jauh dari situ. Berbagai jenis material yang didominasi pipa, batangan besi, dan balok-balok kayu yang awalnya tersimpan rapi sekitar tower diangkat dan dilemparkan begitu saja ke jalan raya. Akibat hal tersebut praktis jalur jalan yang menghubungkan Kelurahan penanae dengan Kendo ini terblokir.

Warga merasa kesal karena tower BTS salah satu operator seluler yang sedang dalam masa pengerjaan itu belum juga dibongkar. Padahal, menurut warga pembangunan pemancar komunikasi itu jelas-jelas mengorbankan lahan pemakaman yang telah turun-temurun digunakan oleh masyarakat Kendo. Bahkan, pada saat penggalian pondasi tower beberapa bulan yang lalu warga mengungkapkan banyak kuburan yang dibongkar dan sisa-sisa kuburan dengan tulang belulang yang masih bisa dilihat hingga hari ini.

Warga memperlihatkan tulang-belulang bekas makam warga di area penggalian pondasi BTS / Foto: Kahaba.info

Keluhan dan keberatan warga sebenarnya telah secara resmi disampaikan kepada Pemkot Bima pertengahan bulan Juni lalu. Kendati Pemerintah Kota Bima telah mengeluarkan instruksi penghentian sementara pembangunan BTS tersebut, namun masyarakat Kendo belum merasa tenang kalau bangunan itu belum dibongkar. Apalagi warga mensinyalir pihak-pihak yang diduga menjual sepetak tanah tersebut kepada pihak operator beberapa waktu yang lalu telah melakukan pemagaran area yang seakan-akan menandai batasan wilayah kuburan dengan tanah yang disengketakan itu.

Aparat kepolisian yang menurunkan sejumlah personilnya terlihat berjaga-jaga di lokasi. Didominasi oleh satuan Patmor, polisi lebih memilih berdialog dengan masyarakat guna mencari jalan keluar terbaik atas masalah ini. Warga bertekad akan tetap meneruskan perlawanan terhadap penyerobotan tanah tempat nenek moyang mereka dimakamkan hingga pihak-pihak terkait merespon keinginan mereka dengan menghentikan aktivitas pengerjaan BTS. Menjelang kumandang adzan sholat Jumat warga satu persatu kembali kerumahnya dan membiarkan material tetap menutupi badan jalan. Akibat terblokirnya jalan utama menuju kelurahan Kendo, pengguna jalan yang hendak keluar atau masuk kendo harus mencari jalan lain yang lebih jauh jaraknya. [BQ]

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *