Pemerintah Dimana? Ko’ Malah Jurnalis yang Peduli Cagar Budaya

Kota Bima, Kahaba.- Aksi kepedulian para Jurnalis di Bima yang membersihkan dan memperbaharui warna kusam Langgar Kuno di Kelurahan Melayu, seolah menjadi pukulan telak bagi Pemerintah Kota Bima. Bagaimana tidak, kondisi yang sangat kotor dan lusuh, jauh dari perhatian Pemerintah Daerah.

Jurnalis saat cat Langgar Kuno. Foto: Bin

Jurnalis saat cat Langgar Kuno. Foto: Bin

Atas kondisi tersebut, pekan lalu para Jurnalis di Bima tergerak hatinya untuk membersihkan cagar budaya itu. Sabtu pekan lalu, belasan jurnalis membersihkan sampah di halaman Langgar Kuno, memperbaiki kerusakan kerusakan kayu dan tiang, hingga menyapu bersih debu-debu pada bangunan tersebut.

Sabtu pekan ini (7/5), para Jurnalis muda tersebut kembali melanjutkan kepeduliannya dengan memasang karpet baru untuk dimanfaatkan anak – anak lingkungan setempat mengaji ditiap malam. Sebab, kondisi karpet sebelumnya, sudah sangat tidak layak untuk dipakai. Kemudian, dilanjutkan dengan cat bagian luar bangunan tersebut, agar terlihat tampak lebih baru dan enak dipandang mata.

“Ini memang sudah menjadi niat kami untuk membersihkan dan mengurus Langgar Kuno ini. Karena yang kami lihat, Pemerintah Daerah tidak mampu mengurusnya,” kritik Wahyudin, salah seorang Jurnalis Bima.

Kata dia, dana untuk mengerjakan Langgar tersebut bersumber dari beberapa orang donatur dan patungan para Jurnalis. Anggaran tersebut, kemudian dimanfaatkan untuk membeli Cat dan karpet serta Al-Quran dan Juz Ama.

“Kami ingin membali karpet kain, tapi uang tidak cukup. Terpaksa membeli empat rol karpet plastik untuk menutupi semua lantai Kayu langgar yang tertutup karpet plastik robek dan sudah tidak layak pakai,” ujar wartawan Dinamika itu.

Karpet plastik yang dipasang di Langgar Kuno. Foto: Bin

Karpet plastik yang dipasang di Langgar Kuno. Foto: Bin

Ditempat yang sama, Agus, wartawan Suara Rakyat menambahkan, semoga dari kepedulian para Jurnalis Bima tersebut, mengetuk hati Pemerintah Kota Bima untuk sedikit menaruh rasa iba terhadap Bangunan bernilai sejarah perkembangan Islam di Bima tersebut. Sebab, kondisinya saat ini, selain Bangunan tersebut butuh peremajaan, juga tidak memiliki air untuk mengambil wudhu.

Kemudian, Budayawan Bima, Husain La Odet yang juga turut hadir dalam kegiatan itu mengatakan, Langgar Kuno yang berdiri tahun 1608 itu merupakan tonggak perjalanan sejarah Islam di Bima. Bangunan tua yang berukuran 8 x 10 m2 itu memiliki 16 tiang itu nampak tak terawat, lapuk termakan usia, sungguh nelangsa melihat bentuk fisiknya.

“Saya jadi bertanya kemana pemerintah daerah, bangunan tua ini masih berdiri, menatap nanar dari lajunya pertumbuhan kota. Jika dahulu adalah simbol kejayaan Islam di Bima, tempat menyebarnya siar dan daqwah agama, kini hanya bangunan tua yang dingin, tak memiliki fasilitas memadai untuk menjadi pusat pendidikan agama masyarakat di sekitarnya,” sorotnya.

Pada waktu malam selepas magrib, sambungnya, bangunan tersebut masih terdengar alunan ayat ayat suci Al Quran, yang dilantunkan anak anak belajar mengaji. Papan hitam dan debu kapur putih sisa alat tulis yang digunakan guru ngaji seakan ikut berbisik tentang potret bangunan sejarah itu.

“Ya sekarang kita masih bersyukur masih ada kelompok pemuda, para jurnalis muda Bima yang peduli tentang keberadaannya, semoga bhakti mereka di Ridhoi Allah SWT dan bisa mengetuk hati warga kota untuk sekedar melihat dan mengenangnya,” harap Odet.

Cat Langgar Kuno Melayu. Foto: Bin

Cat Langgar Kuno Melayu. Foto: Bin

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bima, H. Sukri mengakui, Pemerintah Kota Bima melalui Dinasnya sudah memperhatikan Cagar Budaya tersebut. Seperti pemasangan listrik, air, perbaikan papan juga timbunan yang ada didalamnya.

“Kita perhatikan sekitar tahun 2012 lalu, kalau airnya tidak ada sekarang, berarti sudah rusak,” katanya.

Ditanya apakah ada anggaran tiap untuk memperhatikan bangunan tersebut, Sukri mengaku Cagar Budaya tidak hanya Langgar Kuno yang diperhatikan, karena masih ada Cagar Budaya lain yang setiap tahun diperhatikan, seperti Wadu Ntanda Rahi.

“Jadi tidak berarti Pemerintah tidak memperhatikan sama sekali bangunan langgar kuno itu,” tuturnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. yus

    ini yang bodoh jurnalis apa pemerintah? cagar budaya itu bukan tanggung jwb pemerintah saja tapi semua lapisan masyarakat, sdikit2 pemerintah. itu langgar alias rumah ibadah pemeliharaannya adlah tanggung jwab umat muslim seluruh dunia, nih jurnalis salah kaprah, seharusnya yang dkritik dimana umat islam disekitar langgar itu? kalau tujuanya merawat cagar budaya lalu kritik pemerintah ntuh namanya jurnalis tidak tau kerja ikhlas.

    • YUS : Saya mau tanya..?? bgmn jk kamu menemukan sbh tempat dmn ada warga yg susah, menderita penyakit, kemudian masjid at mushola yg tak terurus…sdngkn orng d sktrny kurang peduli…!!? siapakah orang terakhir kali untuk d minta bantuan agar semuany bisa bergerak bersama…??.,

  2. yus…. mata kamu buta apa….. itu masuk dalam anggaran daerah melalui dinas pariwisata karena masuk dalam cagar budaya…. ini si yus…. anak yang baru belajar asal bunyi tp tidak tau aturan ha…. yus….. belajar yg rajin biar pintar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *