Bulog Minta Pemda Perhatikan Kualitas Bibit Bawang

Kabupaten Bima, Kahaba.- Bawang Merah Bima kini menjadi kebutuhan pasar Nasional. Pemerintah pun telah mengalokasikan anggaran untuk membeli Bawang Merah di Bima sebesar Rp 20 perkilogram. Angka tersebut, dirasa cukup membuat para petani bawang tersenyum.

Kepala Bulog Sub Divre II Bima, Raden Gunadharma saat menunjukan Bawang Merah Bima.

Kepala Bulog Sub Divre II Bima, Raden Gunadharma saat menunjukan Bawang Merah Bima.

Tata Kelola Niaga yang sudah diambil Bulog sekarang tidak lagi hanya memegang Komoditi Beras dan  Gabah, tapi juga sudah merambah Bawang Merah. Sebentar lagi komoditi Beras Merah juga akan diurus oleh Lembaga berplat merah tersebut.

Menurut Kepala Bulog Sub Divre II Bima, Raden Gunadharma, perhatian Pemerintah Pusat untuk Bawang Merah di Bima tentu menjadi peluang bagi petani, untuk lebih sejahtera. Karena tujuan utama Bulog juga, menstabilkan harga ditingkat pasar dan konsumen.

“Kualitas Bawang Merah di Indonesia itu ada tiga, pertama di Bima, kemudian Brebes dan Nganjuk. Nah, sekarang kualitas Bawang Merah Bima diperhitungkan. DKI, Kalimantan, Papua, Jogja, NTT dan Sumatera, lebih memilih Bawang Bima,” ungkapnya, Kamis (19/5).

Kata dia, adanya perhatian serius Pemerintah Pusat terhadap Bawang Merah Bima, juga menjadi peluang bagi Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bima, untuk memperhatikan juga memperhatikan dengan serius kualitas bibit Bawang Merah. Sebab, di Jawa juga mengambil bibit Bawang merah di Bima.

“Artinya apa, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bima, juga harus membantu petani untuk lebih memperbaiki kualitas bibit Bawang Merah. Karena dengan perhatian yang serius dari Pemerintah, petani juga akan lebih sejahtera,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta kepada Dinas terkait untuk memberikan data yang valid tentang kelompok Pertanian, dan waktu produksi atau panen. Karena jika itu salah, tentu Menteri Pertanian dan Bulog juga akan salah menentukan kebijakan.

“Perhatian terhadap Bawang Merah ini juga memperkecil ruang gerak para Tengkulak. Untuk itu, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura bisa lebih cermat mendata dengan valid siapa kelompok tani yang sebenarnya,” harap Awang, begitu pria itu disebut.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *