Kanker di Paha, Maesarah Akhirnya Putus Sekolah

Kota Bima, Kahaba.- Ujian selalu saja menimpa siapa saja. Namun, akan menjadi kisah yang pilu ketika ujian itu menimpa keluarga papa. Di salah satu rumah renta di kelurahan Sadia Kota Bima, gadis berusia 15 tahun mengidap penyakit kanker di pahanya. Miskin dan serba keterbatasan, anak dari Fatimah (39) dan Jufrin (45) akhirnya pun putus sekolah.

Maesarah. Foto: Bin Kalman

Gadis itu bernama Maesarah. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar ada kelainan di sekitar pahanya. Awalnya terdiagnosa penyakit biasa. Namun, semakin berjalannya waktu, pembengkakan di paha Maesarah semakin menjadi, hampir membesar dua kali lipat dari paha di sebelahnya. Di hadapan Kahaba (01/8), Jufrin menuturkan, bahwa anaknya mengidap pembengkakan sejak duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Berbagai cara pengobatan tradisional telah dilakukan, namun tidak mengalami penyembuhan yang signifikan. Pengobatan medis pun dilakukan, dengan biaya mengutang dari sanak saudara. Maesarah akhirnya diperiksa di Rumah Sakit Umum Mataram. Hasil diagnosa medis, ternyata Maesarah terjangkit kanker di pahanya.

Malang nian nasib gadis ini. Kanker itu memburamkan semua cita dan angan Maesarah. Sekolahnya pun terhenti di bangku Sekolah Dasar. Keluarganya pun kian waktu berharap penyembuhan dari tangan pihak ketiga. Orang tua Maesarah yang hari-harinya bekerja sebagai pemecah batu, hanya cukup membiayai untuk kebutuhan hidup sehari-hari dengan sangat sederhana.
Dengan biaya mengutang, ternyata derita pun kian berlanjut. Dokter menyarankan Maesarah untuk berobat lanjut di Bali. Mendengar hal itu, orang tua Maesarah tak banyak berucap dan menjanjikan penyembuhan pada anaknya. Karena miskin dan serba keterbatasan, hingga kini Maesarah tetap menjadi gadis pengidap kanker di pahanya.

Rumor itu pun akhirnya sampai ke telinga penguasa. Penuturan keluarga Maesarah di hadapan Kahaba, ternyata wakil walikota pernah menyambangi mereka. Alhasil, Maesarah pun mendapat uluran bantuan dana Rp 2.500.000. Biaya itu sebagai bekal transportasi untuk ke Bali. Sedangkan untuk pengobatannya akan menyusul kemudian, demikian ujar Khadijah, yang mengulang janji Wakil Walikota, H.A Rahman Abidin, SE ketika mendatangi mereka.

Janji itu pun kian dinanti. Karena tak mungkin biaya pengobatan itu bersumber dari hasil pekerjaan orang tuanya saat ini. Maesarah hanyalah potret kecil atas derita kehidupan yang dialami kaum kusam. Banyak Maesarah lain, yang semestinya membutuhkan uluran tangan semua pihak terutama pemerintah, sebagai garda terdepan dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat yang adil merata. [BK]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *