Aksi Tolak BBM, Demonstran Mengaku Ditembak Sejajar

Kota Bima, Kahaba.- Terbaring di tempat tidur dengan perban di paha dan lengannya, Hairudin (23) mahasiswa semester 6 kampus STKIP Taman Siswa yang menjadi korban tembakan aparat kepolisian pada aksi penolakan kenaikan harga BBM di Bandara Sultan Salahuddin yang berakhir bentrok kemarin (29/3) hanya bisa terkulai lemah. Pria berbadan pendek tersebut mengaku ditembak sejajar dari arah pihak kepolisian yang menghalau mahasiswa.

Hairudin (23) masih dirawat intensif di RSUD Bima

Ditemui wartawan Kahaba di ruang perawatan VIP B RSUD Bima Jumpat (30/3), Hairudin mencoba menceritakan kronologis kejadian yang hampir merenggut nyawanya tersebut. Pria asal Tangga Kab. Bima ini masih mengingat dengan jelas bahwa pada saat dikejar oleh aparat, dia dan sejumlah massa aksi lainnya berusaha menyelamatkan diri ke arah kampus STKIP Taman Siswa. Pada saat berlari, terdengar letupan senjata dari arah aparat secara bertubi-tubi. Tak ingin menjadi korban, dia dan massa aksi lainnya terus berusaha untuk menyelamatkan diri hingga hal yang tidak diinginkannya terjadi.

“Saya tertembak saat berlari menjauhi bandara. Tepat dibagian paha dan tembus ke tangan,” ujar Hairudin. Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat STKIP Taman Siswa ini langsung jatuh terkapar dan segera mendapatkan pertolongan dari massa aksi lainnya yang mengangkat menyelamatkannya dan membawanya menuju Puskesmas terdekat. Menurut mahasiswa jurusan Bahasa Inggris itu, pada saat dikejar aparat menembak dan mengarahkan senjata api keudara dan juga sejajar ke arah massa berlari. “saya pasti ditembak dari arah sejajar, tidak mungkin ditembak ke atas dan mengenai saya,” tuturnya tegas.

Di tempat berbeda, dr. Santi yang menanganinya ketika ditanyai wartawan Kahaba hanya bisa memaparkan data luka mahasiswa tersebut. Mahasiswa tersebut mengalami luka tembus paha kiri dan juga ditemukan luka serupa di tangan kanan. Mengenai jenis peluru, Santi belum bisa memastikannya karena ketika di rontgen tidak ditemukan serpihan proyektil peluru bersarang dalam bekas luka tersebut. “Kita belum bisa memastikan apakah peluru karet ataukah peluru tajam yang yang melukai pasien tersebut,” ujarnya.

Hairudin sendiri saat ini hanya bisa terbaring di ruang perawatan, terlihat tegar dan sesekali ia meringis kesakitan ketika rasa nyeri di paha dan tangannya menyerang. Belasan kawannya yang merupakan rekan sesama mahasiswa menjaganya dari kemarin, sesekali mereka masuk ruangan VIP B tersebut dan melontarkan guyonan yang ditimpali senyum di bibir Hairuddin. Teman-teman lain juga terlihat silih berganti menengoknya untuk sekedar memberikan support dan dukungan atas kejadian yang menimpanya. Beberapa orang yang teridentifikasi sebagai aparat kepolisian dengan seragam sipil terlihat di sekitar ruang perawatan tersebut. [BK]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *