Idul Fitri, Hari Kemenangan Orang yang Berpuasa

Kota Bima, Kahaba.- Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1437 H di Halaman Kantor Pemerintah Kota Bima, Rabu (6/7) pagi berlangsung khidmat. Ribuan jama’ah termasuk Sekda Kota Bima dan sejumlah pejabat teras Pemerintah Kota Bima memadati salah satu lokasi Sholat Id tersebut. Bertindak sebagai Imam sekaligus khatib adalah Ustad Ilham.

Suasana Sholat Idul Fitri di halaman Kantor Pemkot Bima. Foto: Ady

Suasana Sholat Idul Fitri di halaman Kantor Pemkot Bima. Foto: Ady

Dalam khutbahnya, Ustad Ilham menyampaikan bahwa Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan orang-orang yang berpuasa selama satu bulan penuh. Idul Fitri menjadi titik puncak kembalinya umat Islam pada kesucian batin seperti asal kejadian.

Idul Fitri pula menurutnya, adalah kembali kepada agama yang benar sesuai dengan ketentuan Allah. Sebab kita telah keluar di bangku ujian selama bulan ramadan. Ibadah puasa dan qiyamul lail telah menghapus dosa-dosa. Puasa juga membersihkan jiwa dan rohani kita dari kotoran diri dan dari noda-noda sifat yang tak terpuji.

Sementara rasa lapar, dahaga serta kelelahan fisik yang dirasakan selama berpuasa telah menimbulkan kesadaran dalam diri betapa lemahnya manusia dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga manusia tidak sepantasnya bersifat sombong angkuh dan takabur. Karena kelebihan-kelebihan dalam diri manusia, baik ilmu, harta, kekuatan, jabatan, kecantikan dan kekuatan lainnya merupakan amanah dari Allah.

“Lapar dan haus serta kelemahan fisik selama berpuasa menyadarakan kita bahwa disamping kiri dan kanan kita, di masyarakat, dan lingkungan kita masih banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung, fakir miskin dan anak yatim yang membutuhkan uluran tangan kita,” paparnya.

Maka kata dia, manusia patut bersyukur dengan nikmat pendapatan dan pemberian dari Allah, jika dibandingkan dengan sebagian saudra kita yang kurang beruntung. Selain itu, hikmah ramadan mengajarkan sikap jujur dalam setiap sikap dan perilaku. Sebagaimana kita mempertahankan sikap kejujuran dalam berpuasa yang semata-semata karena mengharap ridho Allah SWT.

“Maka kejujuran itu harus kita wujudkan dalam sikap, karakter dan kepribadian kita sehari-hari. Jika kejujuran kita jadikan prinsip hidup, maka akan memberikan pengaruh positif dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, daerah, berbangsa dan bernegara,” terangnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *