Kepala Dishubkominfo Kota Bima, Syahrullah Ditahan Jaksa

Kota Bima, Kahaba.- Kepala Dishubkominfo Kota Bima, Syahrullah resmi ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Bima, Kamis (18/8). Syahrullah ditahan setelah sekian lama ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan tanah Kelurahan Penaraga Pemerintah Kota (Pemkot) Bima.

Ilustrasi

Ilustrasi

Kasi Intelejen Kejari Bima Lalu Mohammad Rasyid membenarkan Syahrullah ditahan. Yang bersangkutan menjadi tahanan Jaksa karena kasus pengadaan tanah Pemkot tahun 2013.

“Iya Syahrullah sudah ditahan. Kini tersangka menjadi tahanan Kejari Bima, sesuai dengan pelimpahan tahap dua yang dilakukan penyidik Tipikor Polres Bima Kota di kantor Kejari Bima,” jelasnya, Kamis sore (18/8).

Kata Rasyid, saat ini Syahrullah sudha ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Bima, sebagai tahanan titipan Kejari Bima.

“Sekitar pukul 15.00 Wita, Syahrullah diantar dari kantor Kejari Bima ke Rutan Bima, didaimpingi Kanit Penyidik Polres Bima Kota,” katanya.

Di tempat lain, Kasat Reskrim AKP. Antonius F Gea, membenarkan telah melimpahkan tersangka dan barang bukti pada tahap dua kasus pengadaan tanah seluas 20,7 are tersebut.

“Sebelum dilimpahkan, kesehatan Syahrullah diperiksa di klinik Polri” katanya singkat.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. contoh buat semua manusia waktu kita di atas ingatlah teman kita dibawah. waktu kita menjadi pejabat jangan pernah takut melawan atasan kalo itu salah. kita harus berani dan makan apa kadarnya ketimbang kita puasin tua kita untuk sebuah imbalan jabatan. tua kita dimana sekarang yang bisa menlindungi kalo bukan diri kita sendiri. sekarang anda sudah basah sekalian aja basah. kalo emang anda punya tua jangan pernah takut sebut. kalo anda tidak punya tua ya itu namanya pembelajaran, apa arti sebuah jabatan atau mobil yang bagus kalo kita harus mencoret tembok untuk menghitung waktu. begini nasihseorang ahli hukum (MH) nasib sudah menjadi bubur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *