6 Tenaga Farmasi RSUD Bima Angkat Bicara

Kabupaten Bima, Kahaba.- Enam orang tenaga sukarela pada bagian farmasi RSUD Bima yang diduga masuk menggunakan uang pelicin dan titipan pejabat akhirnya angkat bicara. Enam orang tersebut masing – masing NH, MF, AM, IM, SL dan IS membantah tudingan sumber pada berita sebelumnya. (Baca. 6 Tenaga Sukarela RSUD Bima Diduga Masuk Dengan Uang Pelicin)

RSUD Bima. Foto: Bin

RSUD Bima. Foto: Bin

Pada kesempata pertemuan, Senin (29/8) disalah satu rumah makan di Kota Bima, enam orang itu meminta kepada sumber yang memberikan informasi kepada kahaba.net untuk menunjukkan bukti kuat tudingan itu.

“Kami berenam ingin sumber menunjukkan diri kepada publik, serta menunjukaan bukti terkait uang pelicin dan  kami merupakan titipan pejabat,” pinta NH.

NH bercerita, dirinya diterima sebagai tenaga sukarela bagian farmasi karena telah mengajukan lamaran Agustus 2014 lalu. Kemudian mendapat panggilan melalui kepala Instalasi Farmasi dan Kasi Pengendali Pelayanan pada bulan April 2015.

“Saat menghadap, saya diminta untuk siap siap menghadapi beberapa test tekhnis bagian farmasi serta wawancara. Hasilnya tes akan dikabarkan dalam waktu yang tidak ditentukan, mengingat akan kebutuhan tenaga farmasi saat itu masih banyak,” jelasnya.

Setahun setelah tes, dirinya kembali mendapat panggilan dari RSUD Bima, pada bulan Agustus 2016. Kemudian diberitahukan bahwa ia dinyatakan lulus tes, sebagai tenaga farmasi bersama ke lima temannya.

“Kami berhasil bukan karena uang pelicin dan titipan pejabat, namun murni berdasarkan nilai yang kami peroleh saat tes, merupakan yang tertinggi dari peserta lainnya,” bebernya.

Sementara itu, AM juga membantah jika punya hubungan dekat dengan tim seleksi bahkan Diru RSUD Bima. Karena sampai saat ini, setelah dirinya diterima sebagai tenaga farmasi, tidak pernah mengenal dekat tim seleksi, bahkan Dirut RSUD Bima. Bahkan sampai saat ini juga, setelah diterima menjadi tenaga sukarela, pihaknya belum menerima gaji.

“Apa mungkin kami menyogok dengan mengeluarkan uang belasan juta, sedangkan gaji tidak menentu. Ini murni karena ingin membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan,” tegasnya.

Oleh karena itu, sebagai pihak yang merasa dirugikan oleh pernyataan sumber yang tidak mendasar. Dirinya bersama lima rekan lainnya, meminta kepada sumber yang memberikan informasi untuk menunjukan bukti kuat, agar tidak menjadi fitnah bagi rekannya dan juga pihak RSUD Bima.

“Kami ingin sumber menunjukkan bukti keterlibatan dan adanya konspirasi jahat saat perekrutan. Jika tidak, kami sepakat berencana akan melaporkan kepada pihak kepolisian, karena tuduhan pencemaran nama baik,” tegasnya bersama lima orang tersebut.

Sementara itu, Dirut RSUD Bima H.Ihsan yang dimintai tanggapan enggan berkomentar terlalu jauh, karena hak untuk melaporkan sumber ke polisi itu hak semua warga negara.

“Saya tidak mau terlalu berkomentar jauh, karena hak melaporkan itu terserah mereka berenam. Jika bisa, hal ini jangan dibawah ke ranah hukum, cukup dibicarakan secara kekeluargaan,” sarannya.

*Eric  

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Mukhlis

    Tidak perlu di pusingkan..masalah seperti ini sudah mendarah daging bagi semua instansi yg ada di kota/kab bima..
    Hanya org2 yg memiliki hubungan kekeluargaan saja yg bisa masuk ke instansi di kab/kota bima..
    Jadi bersabar aja bagi anda yg memiliki kepintaran lebih,di bima mah ga ada harganya org2 yg ber IQ tinggi..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *