Wisudawan Harus Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Ikhlas

Kota Bima, Kahaba.- Kepala Bagian Kelembagaan Kopertis Wilayah VIII Bali-Nusa Tenggara I Made Gunawan berkesempatan menyampaikan sambutan pada acara Rapat Senat Terbuka Wisuda Wisuda Angkatan ke-XXXVI STISIP Mbojo – Bima.

Wisuda STISIP Mbojo Bima. Foto: Deno

Wisuda STISIP Mbojo Bima. Foto: Deno

Saat itu, Gunawan menyampaikan motivasi kepada wisuadawan untuk terus belajar, menyerap ilmu dan tekhnologi yang berkembang, agar mampu beradaptasi pada perubahan dan bersaing.

“Yang lebih penting wisudawan harus mampu kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas, agar tetap eksis dan mampu bersaing dan menjadi pemenang dalam kehidupan kekinian,” ujarnya.

Menurut dia, wisuda merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dengan kegiatan akademik yang telah dilalui oleh setiap mahasiswa. Bahkan inilah titik akhir dari rangkaian akademik yang memadukan kegiatan formalistic dan sertimonial.

Wisuda juga merupakan tanda atau tonggak awal dari para wisudawan untuk memulai menjalani proses kehidupan yang tantangannya lebih dinamis.

Saat ini, menurutnya, budaya mutu telah menjadi isu sentral dalam pengembangan pendidikan, terutama dijenjang pendidikan perguruan tinggi. Mutu tidak lagi menjadi gaya hidup pakem bagi setiap insan yang terlibat dalam pendidikan. Peningkatan kualitas melalui berbagai jalur pendidikan tidak akan pernah berakhir.

“Siapa saja yang tidak mampu mengadopsi dan beradaptasi dengan perubahan, maka akan tergilas atau paling ditinggal oleh perubahan itu,” kata Gunawan.

Makanya, bagi para wisudawan wajib untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya, terutama kesiapan mental dan berbagai kecakapan (skill), sehingga bisa tetap eksis dalam menghadapi dan menikmati gelombang persaingan, sebagai mana seorang peselancar yang sangat senang menikmati tantangan dan ancaman dari ganasnya gelombang laut yang semakin besar.

Penguasaan terhadap berbagai multi kecakapan di era MEA dan global saat ini sambungnya, adalah menjadi kewajiban bahkan kemutlakan. Penguasaan kecakapan sebetulnya belum menjamin suatu keberhasilan, tetapi paling tidak dengan penguasaan kecakapan bisa ikut serta menjadi bagian dari permainan dinamika pembangunan, baik ditingkat lokal, nasional, maupun internasional.

“Di era kekinian persaingan bukan hanya terjadi ditingkat pencari kerja saja,  tetapi perngelolaan perguruan tinggi tidak luput pula dengan persaingan. Perguruan tinggi wajib meningkatkan mutu pendidikan secara sistematik dan berkelanjutan,” paparnya.

Bahkan sekarang berbagai peraturan telah diterbitkan oleh pemerintah untuk menjadi acuan atau pedoman dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Pencapaian akreditasi dengan Permenristekdikti Nomor 32 tahun 2016 tentang akreditasi Prodi dan Perguruan tinggi tidak dapat terwujud begitu saja, perlu dan butuh kerjasama atau sinergi antara seluruh pemangku kepentingan dari perguruan tinggi itu sendiri.

“Sesuai dengan pemberlakuan Permenristekdikti Nomor 44 tahun 2015 tentang standar nasional pendidikan tinggi, akan dapat terwujud jika seluruh civitas akademik bekerja dengan fokus, serius, lurus, kontinus, dan tulus,” tambahnya.

*Deno

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *