Pertemuan Tim Investigasi Sengketa Agraria, Kades Oi Katupa Malah Kabur

Kabupaten Bima, Kahaba.- Pertemuan antara tim investigasi yang terdiri dari Anggota DPRD Kabupaten Bima dan sejumlah SKPD terkait membahas hasil kunjungan lapangan di Desa Oi Katupa, Kamis (1/9) juga dihadiri oleh Kepala Desa Oi Katupa, Muhidin. Tapi beberapa menit pertemuan baru saja dimulai, Muhidin memilih untuk keluar.

Kades Oi Katupa Muhidin saat hadir mengikuti pertemuan. Foto: Bin

Kades Oi Katupa Muhidin saat hadir mengikuti pertemuan. Foto: Bin

Muhidin hadir di ruang rapat Kantor DPRD Kabupaten Bima, tidak sendiri. Pria berkulit gelap itu juga ditemani salah satu warga Desa Oi Katupa. Tapi saat kepala BPN Kabupaten Bima Said Asa memberikan pandangan soal sengketa agraria tersebut, Muhidin bangkit dari tempat duduk dan berbisik pada salah satu Anggota DPRD Kabupaten Bima, Ramli. Setelah itu keluar dari pintu belakang aula pertemuan.

Puluhan menit kemudian, salah seorang warga Desa Oi Katupa yang juga hadir bersama Muhidin berdiri dan berbisik ke telinga Ramli, kemudian keluar di pintu yang sama.

Karena tidak kunjung kembali, anggota dewan menyuruh staf DPRD untuk mencari Kades di luar ruangan. Sekitar 20 menit dicari di sekitar gedung DPR, Kades pun tak terlihat.

Meski Kepala Desa Oi Katupa tidak kembali, pembahasan tetap dilanjutkan. Namun beberapa kepala SKPD yang memberi pernyataan, lebih awal mengaku terasa sia – sia apa yang akan disampaikan, jika tidak langsung didengarkan oleh kepala desa tersebut.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bima, H. Muhammad menyesalkan sikap Kades Oi Katupa yang kabur saat rapat itu.

“Jujur kami kecewa dengan sikap Kades yang tak elok itu. Masa baru mulai rapat, tiba-tiba dia menghilang,” ungkap Duta Partai Golkar ini.

Dia berharap, Kades tidak lagi berbuat seperti ini. Karena, tidak mencerminkan sikap yang baik.

*Noval

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *