Sholat Idul Fitri Di Atas Lapak PKL Dikeluhkan Warga

Kota Bima, Kahaba.- Sholat Idul Fitri 1433 H di Lapangan Pahlawan Raba terlihat berbeda dari tahun sebelumnya, kini jemaah terpaksa menjalankan sholat di atas lantai bangunan permanen (lapak, red) untuk Pedagang Kaki Lima (PKL) yang di bangun oleh Pemerintah Kota Bima.

Ilustrasi

Pantauan kahaba.net saat sholat Id yang berlangsung di lapangan Pahlawan Raba, minggu (19/8), khusus untuk jemaah wanita yang biasanya beribadah di bagian timur lapangan kini tidak lagi dapat ditampung, lantaran pada sisi bagian timur lapangan tersebut telah dibangun 35 los lapak PKL.

Akibat adanya bangunan tersebut, terpaksa puluhan ratusan jemaah wanita sholat di atas lantai lapak yang memang tampak kosong, tidak saja jemaah wanita, kaum Adampun tidak ketinggalan merasakan perbedaan ditahun ini, mereka terpaksa menjalankan sholat Ied di atas lantai taman yang berada di bagian selatan lapangan.

Salah satu warga, Suhardin mengaku, sangat terganggu melihat proses sholat Ied tahun ini, di mana sebagian sisi lapangan sudah berdiri bangunan, harusnya pemerintah tidak seenaknya membangun tanpa berkoordinasi dengan warga.

Lapangan pahlawan sejak dahulu sudah menjadi lokasi bagi warga Kecamatan Raba menjalankan ibadah sholat Ied maupun kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Namun terasa janggal karena dengan hadirnya bangunan permanen tersebut.

“Kami harapkan Pemerintah dapat mengkaji ulang pembangun lapak dan taman kota di areal Lapangan Pahlawan dan mencari solusi terbaik sehingga tidak memicu keributan,” ujar Suhardin. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. pembangunan dirintis,untuk membuat perubahan dari nuansa biasa akan dianggap luar biasa,disisi ibadah karena mengalami perpindahan tempat pelaksanaan sholat Idul fitri yg baru 2 ini diselenggarakan,dilapangan pahlawan raba, ini semua adalah suatu kemajuan yang harus dan harus dilakukan oleh Pemerintah kota Bima
        Nuansa protes dan klaim dari Masyakat, pertanda program pembangunan dari pemerintah aktif dan berjalan, asalkan tidak menghilangkan fungsi asal tempat tersebut.Upacara,kegiatan Olahraga,kegiatan sosial lain misalnya.masalah pelaksanaan sholat Id dilaksanakan diatas lapag PKL itu semua hanya pengaturan,bagaimana pelaksanaan ibadah itu bisa berjaln lancar dan khusuh adanya.dikemudian hari.
          Lapag PKL yang dibangun oleh pemerintah kota Bima pada saat sekarang, tiada lain hanya untuk peningkatan status/multi fungsi lapangan bagi masyrakat yang kurang beruntung disisi ekoniminya atau wadah yang dapat menghimpun golongan yang ekonominya lemah kearah kegiatan yang berproduktif demi tyerwujudnya kehidupan ekonomi yang lebih baik.
          Untuk penolakkan pembangunan lapag PKL menurut hemat saya sebagai pribadi merupakan langkah mundur dan cara berpikir tidak terpuji.dan PKL tidak lagi berjamuran dimana-mana,disepanjang jalan protokol, didekat kali, dipantai misalnya.dan sudah bisa dilakukan penakanan penertiban kalau masih tumbuh berkeliaran, serta memudahkan/meringankan tugas pemerintah dalam hal pengaman Perdanya.
    komentar tersebut diatas merupakan pendapat pribadi, bukan ikut campur urusan pemerintah, demikian untuk maklum.

  2. ketika disulap menjadi pusat PKL maka akan membuat lapangan ini kehilangan makna. sampah-sampah akan mengisi seluruh bagian lapangan, juga estetika jantung kota Raba ini kan rusak. jadi menurut saya pembangunan lapak PKL Di lapangan pahlawan sebuah langkah yg keliru. pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil bisa saja dilakukan, tapi kenapa harus di lapangan pahlawan? apa tidak ada tempat lain untuk memusatkan atifitas PKL? Lapangan pahlawan memiliki nilai historis juga peranan sebagai lahan terbuka yg menjadi pusat aktifitas masyarakat.

    • abank_mone

      sejarah tidak bisa diabaikan,namun fungsi wadah sejarah itu tetap dapat disuntik dengan inovasi baru, gagasan baru,ide ide baru tuk dekade berikutnya dan pemerintah kota bima seyogyanya,me lakukan perubahan menambah fungsi wadah yang dimaksud, untuk menghimpun golongan yang ekonominya lemah kearah kegiatan yang berproduktif demi terwujudnya kehidupan ekonomi yang lebih baik.itu semua ! baru bisa berjalan akan melibatkan diri untuk memberikan pemahaman kepada elemen masyarakat yang tidak tanggap dengan keinginan pemimpin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *