Hikmah Idul Qurban dan Empat Prinsip Hidup

Kota Bima, Kahaba.- Hari raya Idul Adha dilaksanakan serentak di sejumlah lokasi di Kota Bima, Senin (12/9) bertepatan dengan Tanggal 10 Dzulhijjah 1437 Hijriah. Salah satunya di Halaman Kantor Walikota Bima.

Suasana Sholat Idul Adha di kantor Pemerintah Kota Bima. Foto: Ady

Suasana Sholat Idul Adha di kantor Pemerintah Kota Bima. Foto: Ady

Pelaksaan Sholat Id di lokasi ini berlangsung khidmad. Bertindak sebagai Imam, Ustad Nurdin dan sebagai Khatib, Ustad Eka Iskandar yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bima.

Dalam isi khutbahnya, Eka menguraikan hikmah Idul Adha (Idul Qurban) dan empat prinsip hidup yang harus kita wujudkan dalam kehidupan kita. Baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat dan bangsa, seperti dicontohkan dari kehidupan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Prinsip hidup pertama paparnya, yakni berdo’a. Doa bukan hanya menunjukkan kita merendahkan diri kepada Allah, tapi memang kita merasa betul-betul memerlukan bantuan dan pertolongan-Nya, karena Allah adalah segala-galanya.

“Di antara do’a Nabi Ibrahim AS adalah agar negeri yang ditempati diri dan keluarganya dalam keadaan aman. Juga diberikan rizki yang cukup,” terangnya.

Dalam konteks kehidupan negara kita yang mengalami krisis kata Eka, maka sudah seharusnya kita berdoa untuk kebaikan negeri kita agar menjadi negeri yang aman sentosa dan para pemimpin kita diberi petunjuk dan mau menerima petunjuk jalan hidup yang benar agar bisa melaksanakan tugas kepemimpinan dengan benar.

Prinsip hidup kedua, yakni memiliki semangat berusaha sehingga mau berusaha semaksimal mungkin. Hal ini karena sesulit apapun keadaan, peluang mendapatkan sesuatu tetap terbuka lebar. Tetapi kita selalu menjadi penghianat terhadap doa kita sendiri.

Berdoa minta ilmu tapi tidak mau belajar, berdoa minta anak shalih tapi tidak mencontohkan keshalihan dan tidak mendidik mereka, berdoa minta sehat tapi mengonsumsi sesuatu yang mendatangkan penyakit, berdoa minta rizki tapi tidak mau berusaha meraih yang halal, begitulah seterusnya.

“Ini yang kita maksud dengan mengkhianati doa sendiri,” jelas Ustad yang juga Ketua PD Muhammadiyah Kota Bima ini.

Prinsip hidup ketiga, yakni memiliki hati yang bersih. Hati bisa kotor, bukanlah karena kena debu, tetapi hati menjadi kotor apabila padanya melekat banyaknya perbuatan dosa, sengaja menentang ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya. Terlalu banyak contoh yang terjadi dalam masyarakat kita, yang semuanya menghancurkan kesuciah hati manusia.

“Hati yang bersih akan membuat seseorang menjadi sangat sensitif terhadap dosa, karena dosa adalah kekotoran yang sangat merusak jiwa,” tuturnya.

Prinsip hidup keempat, yakni  tidak  menyombongkan diri atas perbuatan yang dialkukannya. Hal ini merupakan prinsip hidup yang kita ambil dari Nabi Ibrahim AS dan keluarganya adalah tidak menyombongkan diri atas kebaikan yang dilakukannya. Dalam kehidupan manusia, banyak orang baik merasa paling baik, bahkan merasa sebagai satu-satunya orang atau kelompok yang baik.

“Begitu pula ada orang yang berusaha menjadi orang yang benar tapi merasa sebagai orang yang paling benar atau satu-satunya yang benar. Ini merupakan kesombongan atas kebaikan dan kebenaran yang dipegangnya,” tandasnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *