Harga Mati Pembongkaran Lapak PKL

Kota Bima, Kahaba.- Harga mati untuk pembongkaran lapak permanen Pedagang Kaki Lima (PKL) di Lapangan Pahlawan Raba, hal tersebut disepakati bersama seluruh perwakilan warga saat digelarnya pertemuan dengan perwakilan Pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Bima di Kantor Kelurahan Rabadompu Barat, Kamis (23/8).

Ilustrasi

Hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Bima, M. Farid,M.Si, Camat Raba, Ridwan. S.E,MM, Lurah Rabadompu Barat, perwakilan PKL serta perwakilan tokoh agama, muda, Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) .

Dalam penyampaiannya, beberapa perwakilan warga kepada perwakilan Pemkot Bima menyatakan bahwa dari aspirasi warga, harga mati untuk supaya lapak PKL yang ada di Lapangan Pahlawan Raba segera di bongkar sebelum di bongkar paksa oleh warga, demikian disampaikan Idris ketua RW 03.

Kadis Koperindag yang coba memberikan solusi untuk supaya ada jalan lain, yaitu ditawarkan kepada warga bangunan permanen yang ada sekarang dimajukan, warga tetap bertekad tidak ada solusi lain mau dimajukan atau dimundurkan, menurut Idris, dengan keberadaan lapak permanen sudah secara tidak langsung merubah fungsi lapangan.

Alasan Idris, satu-satunya Lapangan yang ada di bagian Timur Kota Bima adalah Lapangan Pahlawan, banyak fungsi lapangan sebagai tempat kegiatan masyarakat, terutama untuk kegiatan peribadatan, olahraga, pernikahan dan lainnya.

Fakta telah alih fungsinya lapangan, saat pelaksanaan ibadah sholat Id 1433 H, warga terpaksa sholat diatas lantai lapak dan taman lalu bagaimana kedepannya dengan bertambahnya manusia tentunya keberadaan lapak akan mempersempit ruangan.

Apalagi Lapangan Pahlawan Raba menyimpan histori, banyak kenangan warga timur Kota Bima terhadap Lapangan dari massa penjajahan

Sampai kemerdekaan, lalu apa yang bisa didapat dari pembangunan lapak yang hanya untuk kepentingan segelintir orang. Sementara perwakilan PKL, Muhar, didepan warga menyetujui pembongkaran lapak dengan satu syarat mereka tetap dapat berdagang namun dengan lebih teratur dan bersih. [BS]

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *