PMII Bima Akan Helat Diskusi Pencegahan Terorisme

Kota Bima, Kahaba.- Perspektif Jihad, dalam Islam amat luas dan multi tafsir dalam lintas sejarah sampai era kontemporer ini. Jihad dalam arti “sungguh-sungguh” menjadi motivasi kuat bagi ummat Islam untuk bersungguh-sungguh dalam segala hal baik ibadah, menuntut ilmu, membangun masyarakat atau bahkan dalam berperang jika itu dalam kondisi perang.

ilustrasi / foto: suarapembangunan.net

Namun, sayang praktek jihad justeru lebih menguat kearah tindakan-tindakan kriminal yang justeru bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan dalam Islam maupun dalam hukum Negara ini. Sebagai usaha meluruskan pemahaman itu Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bima, Senin (27/8) ini menggelar diskusi yang bertema Rekonstruksi Nilai Dakwah Islam Rahmatan lil Alamin; Ikhtiar Pencegahan Terorisme di Nusa Tenggara Barat.

Panitia Kegiatan, Awalurrahman mengatakan tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan di Hotel Parewa itu yakni untuk mencerahkan pemahaman masyarakat tentang konsepsi jihad dan strategi dakwah yang selaras dengan Al Qur’an dan sesuai corak kehidupan berbangsa dan bernegara, mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap merebaknya ajaran-ajaran radikal yang mengatasnamakan Islam.

Selain itu jelasnya, untuk mengidentifikasi gejala-gejala dan penyebaran paham radikalisme Agama di wilayah Kota dan Kabupaten Bima serta membangun kesadaran bersama dalam upaya pencegahan paham radikalisme agama di setiap lini kehidupan masyarakat Kota maupun Kabupaten Bima.

Menurut Ketua PC PMII Bima, Rafi’in dalam persepektif hukum Negara saat ini, jihad dalam Islam banyak dilihat sebagai tindakan-tindakan radikalisme untuk memperjuangkan dan mendakwahkan Islam, yang melanggar nilai kemanusiaan, keadilan yang dipertaruhkan dan bahkan kerukunan hidup berbangsa dan bernegara seringkali terancam oleh pemahaman dan provokasi jihad yang tidak dipahami secara proporsional sesuai dengan pandangan Islam yang rahmatan lil’alamin.

Kondisi inipun jelasnya, diperkuat dengan berbagai pembuktian tindakan radikalisme yang didukung oleh berbagai organisasi atau kelompok yang berlabelkan agama baik secara ideologis maupun sosial praktis. Jika boleh digeneralisasi, maka asumsinya doktrin agama adalah bagian dari akar ideologi gerakan radikalisme.

“Walaupun ini masih sangat mungkin terbantahkan dengan faktor-faktor lain penyebab gerakan radikalisme. Namun, justifikasi agama terhadap radikalisme ini menjadi lebih dominan daripada faktor lainnya,” kata Rafi’in melalui pernyataan pers yang diterima wartawan, Sabtu (25/8).

Dikatakannya, apapun bentuk konsep dan prakteknya bahwa Jihad dan radikalisme agama merupakan problem besar bangsa ini, yang harus segera diluruskan dan dihentikan agar kekacauan dalam skala yang besar tidak terjadi. Untuk itu, kontribusi pemikiran dan tindakan yang ramah dari manusia dan alampun harus mampu menjadi penguat ukhuwah keIslaman.

Mendiskusikan tema ini ujarnya, menjadi sangat penting agar dapat memahami konsep-konsep mulia Islam yang menyeluruh dan dapat membawa perbaikan dan kemajuan ummat Islam yang berlandaskan rahmatan lil’alamin.

Sebagai narasumber diskusi katanya, rencananya akan diisi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bima, Kantor Kesbangpoldagri Kota Bima, Pengamat Terorisme yang juga Akademisi, Syarif Ahmad, M.Si dan DPD Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Bima. peserta yang diundang yakni dari berbagai ormas Islam, Remaja Masjid atau Ta’mir Masjid, BEM, OSIS, lembaga kajian agama, Karang Taruna, dan FKPAI, Se-Kota Bima. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *