Sidak, Kadis Dikpora Semprot Kepala SLB Al Ghifari

Kota Bima, Kahaba.- Dinas Dikpora Kota Bima menggelar Inspeksi Mendadak (Sidak), Rabu (21/9) untuk memantau kondisi sekolah serta Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Hasilnya, terdapat satu sekolah yang menelantarkan guru honorer mencapai 90 persen.

Kepala Dinas Dikpora Kota Bima saat Sidak di SLB Al Ghifari. Foto: Eric

Kepala Dinas Dikpora Kota Bima saat Sidak di SLB Al Ghifari. Foto: Eric

“Berdasarkan laporan dari masyarakat, sekolah SD/SMP/SMA AL Ghifari menelantarkan guru honorer setempat dan justeru lebih banyak memanfaatkan guru sertifikasi dari luar sekolah. Sedangkan guru sendiri dibiarkan menjadi penonton,” ujar Kepala Dinas Dikpora Kota Bima, H. Alwi Yasin.

Terbukti hasil sidak hari ini, berdasarkan data dari sekolah tersebut ada 26 guru honorer yang mengajar. Sedangkan guru sertifikasi dari luar sekolah, sebanyak 15 orang. Sementara tingkat kehadiran dalam mengajar tidak menentu, ditambah lagi mata pelajaran yang diajarkan tidak efektif.

“Ini sekolah lucu dan aneh, guru sertifikasi umum luar sekolah disuruh mengajar siswa yang memiliki keterbelakangan mental. Sedangkan guru honorer sekolah sendiri terlihat hanya duduk-duduk saja,” ungkapnya.

Alwi menduga, 15 guru sertifikasi dari luar sekolah hanya datang menitipkan absensi hadir saja tanpa mengajar. Sebab hari ini saja, berdasarkan absensi hanya empat guru yang hadir, tapi orangnya entah dimana. Ditambah lagi jumlah siswa sendiri tidak sebanding dengan jumlah guru sertifikasi.

“Apa iya guru sertifikasi umum mengajarkan Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan Umum lainnya kepada siswa yang terbelakang mental dan fisik,” tanyanya penuh keheranan.

Untuk itu, Dikpora meminta kepada Kepala SLB Al Ghifari untuk tidak lagi menerima permohonan guru sertifikasi. Tetapi bisa memaksimalkan tugas guru honorer internal sekolah, yang mengerti dan faham tentang kondisi siswa setempat.

“Saya akan kembali intens turun sidak ke setiap sekolah, termasuk SLB di Kota Bima. Karena saya menduga banyak guru sertifikasi titipan dari sekolah lain, guna memenuhi jam mengajar 24 jam, padahal belum tentu mengajar secara maksimal,” kesalnya sembari meninggalkan sekolah Al Ghifari.

Sementara itu Kepala SLB Al Ghifari Sanusin yang dimintai klarifikasi membenarkan jumlah guru honorer setempat berjumlah 26 orang. Kemudian guru sertifikasi dari sekolah lain berjumlah 15 orang. Sementara jumlah siswa sekolah setempat berjumlah 40 siswa, dengan tingkat kehadiran 80 persen setiap harinya.

“Tidak semua siswa hadir untuk belajar, karena berbagai alasan dan kondisi. Seperti sakit dan juga tempat tinggal yang sangat jauh. Begitu juga dengan guru sertifikasi yang tidak semua hadir dalam sehari, karena menjagar disekolah lain,” bebernya.

Terkait kritikan Dikpora terhadap 26 guru honorer sekolah setempat yang tidak maksimal dalam mengajar, menurutnya wajar saja. Sebab semua guru honor tersebut, jika dilihat dari jam mengajar sudah memenuhi kebutuhan.

“Saya tetap akan mempertahankan jumlah guru honorer dan sertifikasi, karena mereka mengajar sesuai dengan jam mengajar. Bahkan guru sertifikasi umum, bisa mengajar siswa yang mengalami keterbelakangan mental. Seperti mengajar bahasa Indonesia, Bahasa inggris, matematika bahkan agama, karena sesuai dengan kurikulum dan program belajar SLB Al Ghifari, ” tegasnya.

*Eric

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *