Hebat! Dari Buruh, Pemuda Asal Bima Ini Jadi Anggota DPRD Provinsi Kaltim

Kabupaten Bima, Kahaba.- Gaya bicaranya yang lantang belum berubah, mengingatkan ketika perjumpaan dengan kami sekitar 5 tahun lalu di salah satu rumah makan di Kota Bima. Saat kami kembali dipertemukan akhir pekan kemarin di Sekretariat GP Ansor Kabupaten Bima, Ia hadir mengenakan kemeja kotak-kotak sederhana dengan bawahan jeans.

Anggota DPRD Provinsi Kaltim asal Bima, Syafrudin. Foto: Syafrudin (Facebook)

Anggota DPRD Provinsi Kaltim asal Bima, Syafrudin. Foto: Syafrudin (Facebook)

Penampilannya persis seperti dulu, murah senyum dan masih suka ‘apa adanya’. Sekilas, tak ada yang menyangka pemuda tambun berambut pendek di hadapan kami adalah seorang pejabat teras di Provinsi Kalimantan Timur.

Nama lengkapnya Syafrudin, lahir pada Tanggal 15 Oktober 1979 di desa kecil bernama Desa Sakuru Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Siapa sangka, diusianya yang masih muda ini, Afan begitu sapaan akrab sahabat-sahabatnya sewaktu SMA sukses menjadi Anggota DPRD di Provinsi Kalimantan Timur.

Bahkan, Afan tercatat sudah dua periode berjalan mengemban amanah sebagai Ketua Umum DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Kalimantan Timur. Pencapaian Afan ini bukan tanpa perjuangan dan aral melintang. Semua dilaluinya penuh duka dan pengorbanan.

Dihadapan kami, para kader muda Nahlatul Ulama (NU) Bima, Afan berbagi cerita dan pengalamannya merantau ke Pulau Borneo hingga sukses menjadi politisi muda di Provinsi Kalimantan Timur.

Afan sebenarnya bukanlah pelajar yang tergolong pintar dan beprestasi semasa menempuh pendidikan di MAN 1 Bima. Malah lebih banyak membolos hanya untuk menonton sulap di Pasar Raya Bima. Ia lebih tertarik bekerja sambil mencari uang dibanding belajar.

Sikap Afan ini terpaksa diganjar mahal, karena sering absen akhirnya Ia tidak lulus di MAN 1 Bima dan memilih pindah melanjutkan sekolah di SMA PGRI Monta. Usai menamatkan sekolah sekitar Tahun 1997, Afan yang suka bekerja ini meminta izin orangtuanya untuk merantau ke Banjarmasin dengan tujuan mencari kerja.

“Dengan modal Rp25 ribu saya nekat naik kapal kecil bermuatan bawang merah ke Banjarmasin selama tiga hari tiga malam di laut,” kisahnya.

Cerita pedih mulai dirasakan Afan, maksud hati ingin menumpang gratis, awak kapal malah meminta sewa kepadanya Rp15 ribu. Sesampai di Pelabuhan Banjarmasin, sisa uangnya tinggal Rp10 ribu. Hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa hari saja.

“Pilihannya saat sampai di Banjarmasin jadi buruh pelabuhan atau preman. Karena saya tidak punya uang lagi,” ujarnya.

Akhirnya Afan memilih pekerjaan halal dengan menjadi buruh pelabuhan, memikul bawang merah ke atas kapal. Selama tiga bulan bekerja, Ia berhasil mengumpulkan uang Rp275 ribu, karena setiap hari digaji Rp7 ribu. Setelah cukup lama di Banjarmasin, Afan melanjutkan mengadu nasib di Samarinda akhir Tahun 1997.

Di Samarinda, Ia bertemu dengan kakaknya yang telah lama menjadi PNS. Cita-citanya untuk menjadi TNI sempat terbesit dan diutarakannya kepada sang kakak. Namun nasib tidak berpihak, sang kakak tidak bisa berbuat banyak lantaran gajinya minus dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari karena mengutang di bank.

Perjuangan Afan tak sampai disitu, Ia tak patah semangat. Untuk membantu biaya hidup di daerah rantauan, dirinya kembali bekerja menjadi buruh di pabrik di Samarinda setengah tahun lamanya. Kemudian melamar menjadi karyawan di perusahaan minyak di Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara karena tidak ada perubahan hidup.

“Sayangnya saya tidak diterima karena perusahaan tidak membutuhkan karyawan. Terpaksa saya pun harus jadi buruh tambak. Bekerja serabutan seperti di kampung, lao pina di Muara Badak. Saya digaji Rp25 ribu sehari,” ceritanya sambil tersenyum.

Cerita Afan berlanjut, dari hasil kerjanya itu Ia mengumpulkan uang sebanyak Rp3 Juta. Perlahan perubahan hidup mulai dirasakannya. Tak lama setelah bekerja, Ia mendapat panggilan dari perusahaan minyak tempatnya melamar sebelumnya. Kabar itu, membuatnya senang bukan kepalang. Dalam benaknya sudah terbayang nasibnya tak akan lagi pahit.

Di perusahaan minyak tersebut rupanya Afan tidak terlalu betah karena banyak aturan. Hanya bertahan enam bulan, keingingan Afan mulai tertuju pada kuliah karena mendengar ada penerimaan mahasiswa baru di Universitas Mulawarman (Unmul).

Kampus ini terbilang salah satu perguruan tinggi terbesar di Kalimantan dibandingkan kampus-kampus lainnya. Setelah memantapkan niat, Tahun 1999 Ia memutuskan mendaftar di Unmul mengambil jurusan PGSD. Kala itu, jurusan ini sangat diminati karena tenaga pendidik sangat dibutuhkan.

Karakter Afan mulai terbentuk, begitu pula jalan menuju panggung politik mulai ditapaki dari bangku kuliah. Walaupun pada tiga semester awal kuliah, kesulitan ekonomi masih melandanya. Diawali dengan bergabung di organisasi internal kampus dengan menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).

Kemudian bergabung dengan organisasi eksternal kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Karier Afan di organisasi ini sangat tokcer. Belum lama bergabung Ia sudah dipercaya menjadi Ketua Komisariat oleh rekan-rekannya. Dari PMII, Ia mengenal banyak tokoh-tokoh NU di Kalimantan Timur. Kemudian belajar tentang pemahaman Islam dari organisasi yang didirikan KH Hasyim Asya’ri.

Kepiawaian Afan dalam berorganisasi akhirnya berbalas dengan karirnya yang terus naik. Secara berturut-turut Ia menjabat Ketua DPM FKIP Unmul, Presidium Mahasiswa Unmul, Ketua PC PMII Samarinda. Setamat kuliah sekitar Tahun 2006, politisi PKB Kaltim bahkan rupanya sudah menunggu Afan untuk bergabung di partai besutan KH Abdurrahman Wahid tersebut.

Kiprahnya dalam berorganisasi semasa kuliah, selama ini ternyata dipantau oleh banyak pihak. Jadilah Afan mengawali karir di panggung politik dalam usia yang sangat muda sebagai Ketua Garda Bangsa dan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris DPW Provinsi Kalimantan Timur.

Hanya saja, keberhasilan Afan tidak begitu saja digapai. Disaat awal masuk, Ia mendapat tugas dan tanggungjawab besar membesarkan partai yang boleh dibilang tidak terlalu punya posisi tawar di Kalimantan Timur tersebut. Namun dari tangannya, PKB perlahan besar dan mulai berbenah.

Buah dari kerja keras dan kesungguhan Afan dalam membesarkan partai serta membangun jaringan di pusat, Ia kemudian dipercayakan menjabat Ketua DPW PKB Provinsi Kalimantan Timur pada Tahun 2009. Peruntungan nasibpun Ia coba dengan menjadi Calon Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur.

Sayangnya, karena masih terbilang orang baru di kancah politik, Afan hanya mendulang suara di bawah target perolehan kursi. Pemilihan Legislatif berikutnya, Ia kembali maju hingga akhirnya terpilih setelah bekerja keras menyiapkan perangkat politik dan partai.

Kini, Afan boleh mengangkat dagu. Kegigihannya di tanah rantau tidak sia-sia. Ia berhasil mengangkat nama daerah Bima di panggung politik dengan meraih kursi legislatif di DPRD Provinsi Kalimantan Timur. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Fraksi PKB dan kini sudah periode kedua menjabat sebagai Ketua DPW PKB Kalimantan Timur.

Perih yang menderanya selama berjuang di Kalimantan menunjukan jalan kesuksesan. Perjuangan yang selama ini dirintisnya mengantarkan Afan menjadi orang penting di Provinsi tersebut. Dimana – mana, kisah sukses itu diraih dari pahit dan getirnya perjuangan.  Afan memahami betul tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan yang sungguh-sungguh.

“Tak ada yang sia-sia dalam hidup ini.  Kerja keras dan perjuangan pasti membuahkan hasil. Pada akhirnya semua akan kembali pada sejauh mana sikap istiqomah kita,” pesannya menutup diskusi malam dengan kami.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *