Pelindo III Yakin Pelabuhan Bima Akan Jadi Raksasa

Kota Bima, Kahaba.- Direktur Operasional Pelindo III, Rahmat Satria mengaku sangat optimis Pelabuhan Bima akan menjadi raksasa maritim dalam beberapa tahun ke depan. Keyakinan itu bukan tanpa dasar, sebab Ia melihat sebagian besar komoditi hasil alam ada di wilayah Bima.

Direktur Operasional Pelindo III, Rahmat Satria. Foto: Bin

Direktur Operasional Pelindo III, Rahmat Satria. Foto: Bin

Hal ini disampaikan Rahmat Satria saat memberi pemaparan tentang potensi maritim Pulau Sumbawa dalam agenda kunjungan kerja Menko Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan di Convention Hall Kota Bima, Selasa (25/10) pagi.

“Pelindo III menjadi sentral Pak Menteri karena sangat strategis. Salah satu lokasi Pelindo III itu adalah Pelabuhan Bima. Saat ini memang masih kelas III, tapi kami yakin ke depan akan jadi raksasa,” terang dia.

Rahmat menjelaskan, sebagian besar komoditi import seperti jagung, kedelai, pakan ternak didatangkan di wilayah Surabaya. Karena kebutuhan terhadap komiditi itu sangat tinggi, dalam setahun jumlah import jagung bisa mencapai 4 sampai 5 juta ton.

Namun kata dia, sejak Tahun 2014 hingga Tahun 2016 ini ada penurunan import jagung. Penurunan itu cukup drastis. Bayangkan, tahun lalu hanya sekitar 600 hingga 700 ribu. Hal ini memberi sinyal positif disebabkan karena banyak suplai kebutuhan tersebut dari Bima dan Gorontalo.

“Di Pulau Sumbawa ini ada tiga pelabuhan tempat keluarnya jagung, yakni Pelabuhan Bima, Pelabuhan Badas dan Pelabuhan Kempo,” jelasnya.

Sebagian besar produksi jagung di Pulau Sumbawa dari informasi yang diperolehnya adalah berasal dari Kabupaten Dompu. Namun, Ia mendengar di Bima juga cukup banyak produksinya.

Oleh karena itu, pihaknya berpikir disamping pengembangan Pelabuhan Bima dan Badas, Kempo juga perlu dikembangkan. Karena sangat dekat dengan sentra produksi jagung.

Selain jagung sambungnya, komoditi pentingnya lainnya di Bima adalah kedelai, ikan, bawang dan pakan ternak. Karena itu, Ia ke Bima mengajak serta pengusaha pakan ternak untuk melihat langsung agar mau berinvestasi membangun pakan ternak di Bima ini.

“Karena seluruh hasil sumber dayanya ada. Mulai dari jagung, kedelai, dan hasil laut. Hanya itu yang dicampur-campur untuk pakan ternak,” papar Rahmat kembali memuji daerah Bima.

Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong Bima menjadi salah satu daerah sentra produksi ternak. Sebab di Bima sudah didukung rumah potong hewan (RPH), sehingga yang dikirim ke Surabaya dalam bentuk daging.

“Kelebihannya, Bima juga banyak para Kiyai sehingga semua orang bisa makan daging halal. Kami yakin, bila ini dikembangkan maka Bima akan menyalip provinsi lainnya,” tutur dia.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *