Bahas Isu Demo 4 November, Walikota Bima Imbau Warga tidak Terprovokasi

Kota Bima, Kahaba.- Walikota Bima HM. Qurais H. Abidin menggelar rapat koordinasi bersama Wakil Walikota, Wakil Ketua DPRD Kota Bima, Kajari Bima, Kapolres Bima Kota AKBP, Kasdim 1608/Bima, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bima dan perwakilan Pengadilan Negeri Raba – Bima, di ruang rapat Walikota Rabu (2/11).

Walikota Bima dan jajaran saat rakor membahas isu demonstransi besar-besaran di Jakarta. Foto: Hum

Walikota Bima dan jajaran saat rakor membahas isu demonstransi besar-besaran di Jakarta. Foto: Hum

Rapat tersebut guna membahas tentang isu demonstransi besar-besaran di Jakarta perihal penghinaan agama yang akan dilaksanakan pada tanggal 4 November 2016 oleh sejumlah elemen masyarakat.

Walikota menegaskan, kegiatan demonstrasi atau kebebasan berpendapat merupakan hak warga negara yang dijamin oleh Undang-Undang. Tapi yang menjadi masalah adalah jika kegiatan demonstrasi tersebut mengganggu kenyamanan atau ketertiban masyarakat serta merusak fasilitas umum.

“Inilah yang perlu diantisipasi semua pihak. Kami meminta kepada Kantor Kemenag Kota Bima untuk memberikan pencerahan kepada lingkungan pondok pesantren dan madrasah agar tidak mudah terprovokasi untuk melaksanakan demonstrasi,” pintanya.

Sebelumnya, Walikota telah memberi arahan tegas kepada Dinas Dikpora serta para Camat dan Lurah agar selama dua hari ini melaksanakan sosialisasi yang intensif di lingkungan sekolah serta RT dan RW serta masyarakat, agar seluruh elemen masyarakat menjaga suasana kondusif dan tidak mudah terprovokasi.

“Menyatakan sikap merupakan hak setiap warga negara. Namun kita juga wajib menjaga ketertiban dan keamanan. Jangan sampai meninggalkan tanggungjawab tugas atau pekerjaan hanya karena terlibat demonstrasi,” ujarnya.

*Bin/Hum

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *