Pemilik Pemandian Arema Ngaku Tetap Awasi Pengunjung

Kota Bima, Kahaba.- Pemilik sarana pemandian Arema Harun Zakariah memberikan pernyataan terkait peristiwa tewas tenggelamnya siswi SDN 14 Kota Bima. Menurut dia, setiap pengunjung yang mandi di tempatnya tetap diawasi dengan baik.

Pemilik Pemandian Arema Harun Zakariah (Kanan) bersama karyawannya. Foto: Ady

Pemilik Pemandian Arema Harun Zakariah (Kanan) bersama karyawannya. Foto: Ady

Hanya saja, pada waktu peristiwa itu terjadi, luput dari perhatian penjaga. Karena satu orang penjaga sedang membersihkan lokasi disekitar kolam.

“Saat penjaga keliling disekitar kolam, baru melihat ada sosok anak yang tenggelam di dalam kolam dewasa dan segera mengevakuasi,” terangnya saat didatangi sejumlah kuli tinta, Jumat (11/11).

Ditanya Standard Operating Procedure (SOP) pengelolaan tempat pemandian itu, Harun mengaku tetap menerapkannya. Penegasan kerapkali disampaikan kepada karyawan, untuk tidak pernah pergi meninggalkan lokasi kolam. Minimal satu orang untuk satu kolam.

Kepada karyawannya juga sering diingatkan tentang kesalamatan pengunjung. Jangankan, pengunjung yang jumlahnya banyak, satu pengunjung yang mandi juga harus tetap dikontrol.

Ia menyebutkan, jumlah penjaga kolam kita sebanyak 5 orang. Biasanya pada hari Minggu, pengunjung penuh dan semua penjaga harus tetap berada di kolam. Sementara pada hari – hari lain yang sepi pengunjung, satu penjaga kolam tetap harus ada dan tidak boleh kemana – mana.

“Kejadian kemarin diluar kehendak manusia, dan menjadi musibah yang harus juga kami terima. Padahal disini ada 8 CCTV, tapi tidak terekam oleh CCTV. Rekaman CCTV sekarang sudah diambil oleh Polisi untuk penyeledikan,” katanya.

Menjawab soal pungutan biaya untuk orangtua yang ingin kontrol anaknya berenang, Harun menjelaskan dulu memang orangtua digratiskan masuk ke area kolam. Tapi karena banyak juga kebiasaan masuk terus mandi, pihaknya merubah aturan dengan membuat tempat pengawasan orang tua dibagian atas, tanpa bayar.

Kemudian menanggapi pernyataan Anggota DPRD Kota Bima agar usahanya ditutup sementara, Harun memohon agar tidak ditutup. Karena usahanya bisa rugi.

“Mohon ditinjau kembali usulan ditutup itu, saya juga punya karyawan yang harus digaji setiap bulan,” tuturnya.

Harun menambahkan, sebagai bentuk perasaan duka terhadap keluarga korban, saat kejadian tersebut usahanya ditutup. Ia bersama karyawan melayat, bahkan beberapa orang karyawannya ikut menggali kuburan.

“Kami juga merasakan duka yang dialami oleh orang tua korban,” tambahnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *