Warga Dara Usir Pekerja Timbunan Laut Amahami

Kota Bima, Kahaba.- Puluhan warga Kelurahan Dara mendatangi lokasi penimbunan pembukaan jalan baru di Pantai Amahami (14/11). Warga yang hadir bersama mahasiswa STIH Muhammadiyah Bima itu memprotes dan mengusir pekerja yang beraktifitas dilokasi tersebut.

Warga Dara dan mahasiswa saat menggelar aksi dan menghentikan penimbunan laut Amahami. Foto: Bin

Warga Dara dan mahasiswa saat menggelar aksi dan menghentikan penimbunan laut Amahami. Foto: Bin

Ketua RT 04 Kelurahan Dara, Muhammad kepada pekerja media mempertanyakan adanya aktifitas penimbunan laut untuk membuka jalan di laut Amahami. Padahal laut tersebut milik negara.

“Penimbunan pembukaan jalan ini hanya untuk kepentingan orang – orang Tionghoa yang telah menguasai secara pribadi laut untuk dijadikan dataran,” sorotnya.

Ia juga mempertanyakan kenapa pemerintah terkesan membiarkan adanya penguasaan pribadi laut tersebut. Jika orang – orang Tionghoa bisa memiliki laut tersebut, maka semua orang, termasuk warga Kelurahan Dara juga bisa memilikinya.

“Kenapa orang dari luar saja bisa, kenapa kami yang warga asli Dara tidak bisa. Ini diskriminasi namanya,” tegas  Muhammad yang juga Mahasiswa STIH Muhammadiyah Bima itu.

Menurutnya, luat itu jelas milik negara. Bahkan untuk meyakinkan itu, mereka mendatangi Kantor BPN guna klarifikasi penimbunan laut tersebut.

Warga Dara dan Mahasiswa saat mengusir pekerja penimbunan laut Amahami. Foto: Bin

Warga Dara dan Mahasiswa saat mengusir pekerja penimbunan laut Amahami. Foto: Bin

“Tadi bidang Sengketa Lahan di BPN bilang, laut itu milik negara dan tidak bisa disertifikat secara pribadi,” ungkapnya.

Untuk itu, dirinya menegaskan, sebelum adanya kejelasan hukum dan kejelasan siapa saja yang memiliki laut itu secara pribadi, warga Dara tetap akan menghalangi dan menghentikan penimbunan laut tersebut.

“Jangan tiba masa tiba akal, kami minta hentikan pekerjaan ini,” katanya.

Sementara itu, pekerja proyek penimbunan Mulyono atau yang bisa dipanggil Baba Ngeng saat aksi itu terlihat berinteraksi dan berdialog dengan warga. Dirinya menjelaskan, bahwa itu bukan penimbunan untuk lahan pribadi, tapi proyek pembukaan jalan baru.

“Proyek ini tidak ada urusannya dengan kepemilikan secara pribadi laut oleh warga,” tuturnya.

Upaya penjelasan Baba Ngeng tidak dihiraukan oleh warga. Tetap saja warga ngotot agar pekerjaan tersebut dihentikan.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *