Warga Talabiu Blokir Jalan Negara Imbas Kasus Pick Up

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kasus terbakarnya mobil pick up yang terjadi beberapa waktu lalu, kini menuai protes lanjut dari warga Talabiu. Pasalnya, warga menggelar demontrasi dan memblokir jalan negara di cabang Talabiu menuntut tindak lanjut kasus tersebut yang telah menelan korban jiwa. (baca: warga talabiu bantu mobil pick up terbakar)

Warga talabiu memblokir jalan negara (7/9), menuntut ganti rugi bagi korban saat memadamkan mobil pick up yang terbakar beberapa waktu lalu/foto: Chen

Dari pantauan Kahaba dilokasi demonstrasi (7/9), puluhan masyarakat Talabiu menuntut pertanggungjawaban berbagai pihak atas kondisi yang menimpa korban akibat membantu pemadaman mobil pick up yang meledak itu. Warga menilai bahwa pangkalan pemilik BBM maupun pihak SPBU Panda serta Jasa Raharja dan Pemerintah Daerah harus ikut bertanggungjawab.

Aksi yang dimulai pukul 09.30 Wita langsung memutuskan akses jalan negara menuju kabupaten Dompu dan Sumbawa. Saat aksi berlangsung, massa memblokir jalan dengan membakar ban dan memasang batu serta kayu di tengah jalan. Tampak ratusan mobil macet sejauh kurang lebih 10 km baik yang menuju ke Kota Bima maupun yang ingin ke wilayah Kabupaten Bima dan Dompu.

Salah seorang orator aksi, Zego, menuntut agar pemerintah daerah maupun pihak SPBU dan Jasa Raharja tidak menutup mata dan harus memberikan santunan kepada korban pemadaman mobil pick itu. Dan kepada aparat kepolisian harus menuntaskan kasus ini hingga tuntas.

“Selama ini, para korban tidak pernah mendapatkan bantuan. Padahal diantara korban ada yang sampai meninggal dunia akibat luka bakar yang begitu parah atas nama Tamrin H. Ahmad. Dan sebelum aksi kami sudah melakukan kordinasi dngan semua pihak namun tidak mendapatkan tanggapan yang berarti,” ujar Zego. [BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *